Museum Lambung Mangkurat, Rumah Ingatan di Tanah Banjar

Museum Lambung Mangkurat adalah bukti bahwa sebuah komunitas tidak pernah benar-benar kehilangan masa lalunya, selama ada tempat dan orang yang bersedia menjaganya.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Pagi itu, Kota Banjarbaru masih diselimuti kabut tipis ketika deretan pohon-pohon ulin di pinggir Jalan Ahmad Yani mulai memantulkan cahaya matahari pertama. Angin dari arah Riam Kanan membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang menua, seakan memanggil para pengunjung untuk kembali menelusuri jejak waktu.

Tidak jauh dari keramaian kota, berdirilah sebuah bangunan beratap tinggi dan mencolok, dengan siluet yang langsung membawa imajinasi pada halaman-halaman sejarah Kalimantan Selatan. Itulah Museum Lambung Mangkurat—sebuah ruang di mana masa lalu Banjar dan Dayak menunggu untuk dibaca kembali.

Bagi masyarakat lokal, museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda lama. Ia adalah rumah bagi memori kolektif, sebuah jendela yang memperlihatkan lapisan-lapisan sejarah: kerajaan, perdagangan, ritual, hingga tradisi yang menyusun identitas budaya Kalimantan Selatan.

- Advertisement -

Bangunan utama museum, yang berdiri anggun di atas lahan seluas 1,6 hektare, menyerupai Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi—arsitektur tradisional yang dikenal sebagai simbol kebesaran budaya Banjar. Dari kejauhan, bentuknya mencuat seperti punggung sebuah perahu besar yang menantang waktu.

Di sinilah kisah Lambung Mangkurat, tokoh penting dalam Hikayat Banjar, menemukan kembali rumahnya, diabadikan lewat nama museum yang kini menjadi pusat pelestarian budaya terbesar di provinsi ini.

Dari Museum Borneo ke Rumah Budaya Banjarbaru

Cerita Museum Lambung Mangkurat dimulai lebih dari satu abad lalu. Pada tahun 1907, Pemerintah Belanda mendirikan Museum Borneo di Banjarmasin sebagai salah satu upaya awal mendokumentasikan budaya lokal. Waktu berjalan, dan nama museum pun berubah mengikuti dinamika zaman: menjadi Museum Kalimantan pada 1955, kemudian Museum Banjar pada 1967.

- Advertisement -

Perjalanan panjang itu mencapai babak baru ketika keputusan diambil untuk memindahkan museum ke Banjarbaru—sebuah kota yang kelak menjadi ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 1974, pembangunan gedung baru dimulai secara bertahap, meretas identitas museum yang lebih representatif bagi masyarakat Banjar dan Dayak.

Baca Juga :  Legenda Pulau Komodo, Jurassic Park Asli di Timur Indonesia

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 10 Januari 1979, gedung baru diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef. Sejak itu, museum ini berdiri sebagai pusat dokumentasi warisan budaya dengan sepuluh kategori filologika dan etnografika yang terus berkembang.

Koleksinya dipindahkan secara perlahan ke gedung baru seluas sekitar 1.000 meter persegi. Hari ini, lebih dari 12.000 artefak tersimpan di dalamnya—representasi menyeluruh tentang kehidupan, kepercayaan, dan sejarah Kalimantan Selatan.

- Advertisement -

Menjelajahi Isi Sonaf Budaya Banjar

Memasuki museum ini seperti memasuki lorong waktu. Cahaya redup yang menerobos jendela kayu menciptakan suasana yang khidmat, seolah meminta setiap pengunjung untuk melangkah perlahan.

Di salah satu ruang pamer, peninggalan Kesultanan Banjar tampil sebagai artefak yang berdiri di antara kejayaan masa lalu: kursi emas kerajaan yang memantulkan cahaya, mahkota yang pernah menyentuh kepala bangsawan, tombak dan perisai yang menjadi simbol ketangguhan politik dan spiritual. Benda-benda ini bukan sekadar objek sejarah; mereka adalah saksi hidup perubahan kekuasaan dan pergulatan politik daerah yang telah berlangsung ratusan tahun.

Tidak jauh dari koleksi kerajaan, berbagai perlengkapan ritual dari masyarakat Dayak menempati ruang khusus. Kalung Manik Lamiang dan Gelang Balian dipajang berdampingan, memperlihatkan keterampilan tangan yang rumit sekaligus makna spiritual yang mendalam. Dalam budaya Dayak, benda-benda ini bukan hanya aksesori; mereka adalah penghubung antara dunia manusia dan roh penjaga.