Modernisasi Budaya Mbay: Dialog Identitas dan Perubahan Sosial

Podcast terbaru Dimensi Indonesia menampilkan perbincangan hangat antara Rogal Muhammad dan Bung Awi tentang modernisasi dan identitas budaya Mbay. Mereka mengulas bagaimana globalisasi memengaruhi nilai sosial, bahasa, serta pewarisan budaya lokal — sambil menegaskan bahwa budaya bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi jati diri masyarakat.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Podcast terbaru di kanal Dimensi Indonesia menampilkan perbincangan menarik antara Rogal Muhammad dan Bung Awi, dua sosok muda yang sama-sama tumbuh di tanah Mbay. Meski dikemas dengan gaya santai dan penuh tawa, percakapan mereka sesungguhnya menghadirkan refleksi social budaya yang cukup serius: bagaimana modernisasi, globalisasi, dan arus teknologi telah mengubah wajah masyarakat Mbay, baik dari segi perilaku, bahasa, maupun sistem nilai.

Dalam percakapan itu, Bung Awi menegaskan bahwa perubahan di Mbay kini sangat terasa.
“Masyarakatnya semakin berkembang, teknologi sudah masuk ke pelosok,” ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan proses transformasi sosial yang tak terelakkan: modernisasi sebagai bentuk adaptasi terhadap globalisasi.

Modernisasi, dalam konteks sosiologi, sering dipahami sebagai proses peralihan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, pendidikan, dan perubahan struktur ekonomi. Namun, seperti yang diamati Bung Awi, perubahan itu juga membawa konsekuensi: pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya.

- Advertisement -

Jika pada masa lalu masyarakat Mbay dikenal dengan semangat gotong royong, solidaritas sosial, dan kehidupan yang komunal, kini muncul gejala individualisasi. Bung Awi menyebut, “Masyarakat dulu lebih rileks, lebih kolektif. Sekarang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing.”

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori Anthony Giddens tentang refleksivitas modernitas di mana masyarakat modern cenderung berorientasi pada diri sendiri, sementara ikatan tradisional mulai melemah.

Media sosial dan teknologi digital memang memperluas jaringan komunikasi, namun di sisi lain, sering kali mempersempit kedekatan sosial yang bersifat nyata.

- Advertisement -

Salah satu bagian paling menarik dari podcast ini adalah ketika Rogal bertanya: “Apakah budaya itu menghambat kemajuan?”

Pertanyaan ini sering muncul di masyarakat yang sedang bergerak cepat ke arah modernitas.
Bung Awi menolak anggapan tersebut. Baginya, budaya tidak pernah menjadi penghambat, karena budaya adalah dasar eksistensi sosial. “Budaya itu tidak pernah menghambat perkembangan. Justru budaya yang menjaga arah agar kita tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.

Baca Juga :  Sawah Jatiluwih dan Warisan Budaya Dunia

Pernyataan ini sejalan dengan pandangan antropolog Clifford Geertz yang menyebut bahwa budaya adalah “jaring makna” yang menuntun tindakan manusia. Tanpa budaya, kemajuan akan kehilangan orientasi moral dan makna sosial.

- Advertisement -

Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah soal pewarisan nilai dan tradisi. Generasi muda, kata Rogal, kini mulai jauh dari akar budaya lokal. Hal ini terjadi bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena sistem sosial sering kali tidak memberi ruang belajar yang cukup.

“Saya pernah mau ikut upacara adat, tapi dibilang, ‘Kamu anak kecil, di belakang saja.’ Kalau begitu, bagaimana kita bisa belajar?” kata Rogal. Kutipan ini memperlihatkan ketegangan antar-generasi, di mana keinginan anak muda untuk belajar budaya sering terbentur dengan pola otoritatif dari generasi sebelumnya.

Dalam kajian kebudayaan, situasi ini disebut cultural discontinuity terputusnya kesinambungan nilai antar generasi akibat perubahan sosial yang cepat. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat mengarah pada hilangnya intangible cultural heritage (warisan budaya takbenda) seperti bahasa, ritual, dan kearifan lokal.

Meski begitu, Bung Awi optimis. Ia percaya bahwa generasi muda justru memiliki potensi besar untuk melestarikan budaya melalui cara-cara baru. Digitalisasi dan media daring bisa menjadi alat dokumentasi, pendidikan, dan promosi budaya lokal yang efektif.

Ini sejalan dengan tren digital cultural preservation upaya mendokumentasikan dan mempublikasikan budaya melalui platform digital agar tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat. Dengan demikian, modernitas tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat identitas lokal.

Menjelang akhir percakapan, Bung Awi menyebut Mbay sebagai “surga kecil” tempat yang damai, subur, dan kaya akan kearifan lokal. Namun, ia juga menyadari bahwa keindahan itu bisa hilang jika masyarakat tidak lagi memelihara nilai-nilai sosial dan budaya yang menjadi ruhnya.

Baca Juga :  Kesejahteraan Guru Honorer, Podcast Bersama Ambo Taang
Tim produksi Popcash Dimensi Indonesia

Modernisasi tidak boleh dimaknai sebagai proses meninggalkan masa lalu, tetapi sebagai cara baru untuk melanjutkan warisan budaya. Bung Awi dan Rogal, lewat dialog sederhana mereka, sesungguhnya sedang mengajarkan bentuk baru dari nasionalisme kultural kesadaran untuk menjadi modern tanpa kehilangan budaya.

Podcast “Bagaimana Mbay Saat Ini?” tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga laboratorium pemikiran budaya.

Melalui dialog yang terbuka dan reflektif, video ini menunjukkan bahwa perubahan sosial di tingkat lokal dapat dibaca sebagai cerminan perubahan bangsa secara keseluruhan. Mbay hanyalah satu contoh kecil, tetapi dari sana kita belajar satu hal penting: bahwa setiap kemajuan yang sejati harus berjalan seiring dengan pemeliharaan memori kolektif dan identitas kultural. Tanpa itu, kemajuan hanyalah gerak tanpa arah, tanpa jiwa.