Mengenal Sate Rembiga, Cita Rasa Pedas Gurih Khas Lombok yang Melegenda

Bagi wisatawan atau pencinta kuliner yang ke Lombok, mencicipi Sate Rembiga menjadi pengalaman otentik: dari aroma asap dari arang, gigitan daging sapi lokal dengan tekstur lembut, hingga sensasi pedas gurih yang khas.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Di antara hamparan pantai putih dan perbukitan hijau Lombok, ada satu warisan kuliner yang tak boleh terlewatkan: Sate Rembiga (kadang disebut “Sate Rembige”, menurut logat setempat).

Kali ini kita akan menjelajahi cita rasa yang pedas gurih, sejarahnya yang menarik, serta bagaimana sate ini tumbuh menjadi ikon kuliner Lombok.

Rasa yang Tidak Biasa

Berbeda dari banyak sate Nusantara yang cenderung manis-gurih, Sate Rembiga menyodorkan sensasi pedas gurih dengan hanyalah sedikit manis. Proses marinasi selama kira-kira dua jam membuat bumbu rempah — seperti cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, terasi, kemiri, dan rempah lainnya — meresap hingga ke dalam daging sapi.

- Advertisement -

Kemudian sate dibakar di atas arang, sehingga aroma asapnya memperkaya cita rasanya. Warung Sate Rembiga Utama Bu Ririn misalnya, menawarkan seporsi 10 tusuk dengan harga sekitar Rp 25.000.

Biasa disajikan tanpa sambal cocol tambahan, karena rasa pedas dan gurihnya sudah cukup kuat. Sebagian orang menyantapnya dengan lontong kerucut, sebagian lainnya dengan nasi.

Sate Rembiga

- Advertisement -

Dari Kerajaan Pejanggik hingga Warung Masa Kini

Sate Rembiga berasal dari Desa Rembiga di Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, NTB. Nama “Rembiga” itu sendiri diyakini berasal dari kata “rembug”, yang berkaitan dengan tempat pertemuan istana atau pondok, tempat kalangan kerajaan dan keluarga besar berkumpul.

Menurut catatan dari Liputan6.com, sate tersebut sudah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Pejanggik pada abad ke-14 hingga ke-17. Pada masa itu, sate ini dianggap hidangan istimewa dan disajikan hanya dalam acara adat atau upacara keraton.

Salah satu warung legendaris yang menjaga tradisi itu adalah Sate Rembiga Ibu Sinnaseh, yang berdiri sejak tahun 1988. Di masa awal berdirinya, harga satu porsi sate masih Rp 1.250. Kini, harganya jauh berbeda, yakni sekitar Rp 25.000 per 10 tusuk.

- Advertisement -
Baca Juga :  Kapurung, Kuliner Tradisonal Segar Asli Sulawesi Selatan

Ibu Sinnaseh memulai usaha dengan modal kecil—sekitar Rp 125.000 untuk membeli daging dan bumbu olahan. Kini, usahanya telah tumbuh pesat; ia dibantu sekitar 40 orang karyawan dan terus menjaga resep tradisional agar tak berubah.

Seiring kemunculan Sirkuit Mandalika, omzet warung populer seperti Bu Ririn juga melonjak. Warungnya buka dari pagi hingga malam hari (~ pukul 09.00 sampai 22.00 WITA).

Sate Rembiga

Warung Legendaris dan Jejaknya di Kota

Jalan Dr. Wahidin di sekitar Rembiga kini dipenuhi warung-warung Sate Rembiga. Meski banyak penjual, hanya beberapa nama yang benar-benar dikenal luas: Warung Sate Rembiga Ibu Sinnaseh dan Sate Rembiga Utama Bu Ririn.

Warung Utama Bu Ririn berdiri sejak 1989, berlokasi di Jl. Dr. Wahidin No. 5, Mataram. Warung itu sangat ramai dan menjadi salah satu penjual sate sapi pedas yang paling dicari di Lombok.

Warung Utama Bu Ririn memiliki rating tinggi di Tripadvisor — sekitar 4,6 dari 5 berdasarkan ulasan pelanggan internasional.  Warung Sate Rembiga Utama juga tercatat sebagai restoran kelas atas di Mataram dengan banyak ulasan positif.

Nilai Budaya dan Pelestarian

Sate Rembiga

Sate Rembiga bukan cuma soal rasa, tetapi juga simbol identitas Sasak di Lombok. Dalam penelitian “Wisata Gastronomi” yang mempelajari nilai sejarah dan budaya lokal, ditemukan bahwa metode memasak – dari manual mencampur bumbu hingga memanggang memakai arang – mengandung nilai kearifan lokal.

Bahkan penggunaan gerabah sebagai alat memasaknya masih dipertahankan di beberapa tempat.

Tantangan utama kini adalah menjaga agar resep asli tidak tergeser oleh adaptasi modern. Beberapa warung sudah menggunakan mesin penggiling daging, meskipun tetap mempertahankan teknik pencampuran bumbu secara manual demi cita rasa autentik.

Baca Juga :  Soto Kudus, Kuah Gurih & Cerita dari Kota Kretek yang Melegenda