Di tengah bentang alam Kalimantan Utara yang masih lekat dengan hutan dan kehidupan masyarakat adat, sebuah tradisi sederhana menyimpan pelajaran panjang tentang cara manusia bertahan hidup. Di Desa Wisata Setulang, Kabupaten Malinau, masyarakat Dayak Uma Lung mempertahankan lumbung padi sebagai bagian penting dari kehidupan kampung.
Bangunan-bangunan kecil yang berdiri terpisah dari rumah utama itu sekilas tampak sederhana. Dindingnya menggunakan kulit kayu tertentu, sementara bentuknya mengikuti aturan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat pengetahuan tradisional tentang pangan, keselamatan, pengendalian hama, hingga solidaritas sosial.
Sekitar 45–60 menit perjalanan dari pusat Kota Malinau, Desa Setulang menjadi ruang hidup bagi masyarakat yang sekitar 95 persen penduduknya merupakan sub-suku Dayak Uma Lung. Di tempat ini, lumbung padi bukan sekadar bangunan penyimpan hasil panen. Ia menjadi bagian dari sistem kehidupan yang dibangun berdasarkan pengalaman leluhur menghadapi berbagai risiko.
Lumbung yang Lahir dari Pengalaman Leluhur
Kebiasaan menyimpan makanan di bangunan terpisah dari rumah utama telah dikenal masyarakat Dayak Uma Lung sejak mereka masih tinggal di kampung lama, Long Sa’an. Tradisi itu telah berlangsung jauh sebelum perpindahan masyarakat pada 1978.
Menurut Kepala Desa Wisata Setulang, Saleh Wang, keputusan untuk memisahkan lumbung dari rumah bukan tanpa alasan. Leluhur mereka menyadari bahwa makanan dan barang berharga merupakan bagian penting dari keberlangsungan hidup keluarga sehingga harus ditempatkan di lokasi yang relatif aman.
Prinsip tersebut terutama berkaitan dengan risiko kebakaran. Rumah-rumah tradisional pada masa lalu menjadi tempat berbagai aktivitas keluarga sekaligus menyimpan banyak kebutuhan sehari-hari. Jika kebakaran terjadi, seluruh harta benda dapat musnah dalam waktu singkat.
Dengan menempatkan persediaan makanan di bangunan berbeda, kerugian akibat bencana dapat ditekan. Bahkan ketika rumah utama terbakar, masih terdapat kemungkinan keluarga mempertahankan cadangan pangan untuk melanjutkan kehidupan.
Pengetahuan tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi bencana tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi modern. Dalam masyarakat tradisional, pemahaman mengenai risiko dapat tumbuh dari pengalaman panjang dan kemudian diwariskan menjadi aturan hidup.
Atap yang Tak Boleh Bersentuhan
Lihat postingan ini di Instagram
Kecerdasan lokal masyarakat Uma Lung juga terlihat pada cara mereka mengatur posisi lumbung. Bangunan-bangunan tersebut tidak harus tersusun dalam barisan tertentu. Namun, ada satu aturan yang tidak boleh dilanggar: atap lumbung tidak boleh saling bersentuhan.
Aturan sederhana itu berkaitan dengan pengendalian hama, terutama tikus.
Jika satu lumbung terserang tikus dan bangunannya terlalu berdekatan, hewan tersebut dapat berpindah dari satu tempat penyimpanan ke tempat lainnya. Jarak antarlumbung dengan demikian bukan sekadar persoalan tata ruang, tetapi menjadi bagian dari strategi menjaga persediaan pangan.
Di sini, arsitektur tradisional berfungsi lebih dari sekadar tempat berlindung. Bentuk dan tata letak bangunan dirancang berdasarkan pengamatan terhadap lingkungan dan perilaku hewan yang berpotensi mengganggu persediaan makanan.
Pengetahuan semacam ini mungkin terlihat sederhana bagi masyarakat modern. Namun, bagi komunitas yang menggantungkan kehidupan pada hasil pertanian, menjaga satu lumbung berarti menjaga cadangan hidup sebuah keluarga.


