Di antara aroma pempek goreng dan suara riuh pasar tradisional Palembang, ada satu kudapan yang hampir hilang dari ingatan: kue pare. Berwarna hijau lembut, dibungkus daun pisang, dan disusun rapi di atas tampah bambu — kue ini mungkin tampak sederhana.
Namun di balik bentuknya yang menyerupai sayur pare, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan rasa, budaya, dan ingatan kolektif masyarakat Melayu di tepian Sungai Musi.
Jejak Kuliner dari Sungai dan Persinggahan
Palembang, kota tua di tepi sungai terbesar di Sumatra Selatan, selalu menjadi titik pertemuan. Di sini, rempah, bahasa, dan budaya bertemu dan berpadu. Tak heran jika jejak akulturasi juga tercermin dalam dapurnya — termasuk dalam kue pare.
Menurut penelitian Fatma Dwi Oktaria dan rekan-rekannya yang dimuat dalam Jurnal Kalpataru, kue ini bukan hanya milik Palembang. Di Riau, masyarakat mengenalnya sebagai papare, sementara di Kalimantan Selatan disebut wadai pare atau wadai papari.
Nama boleh berbeda, tapi bentuk dan rasa tetap sama: adonan tepung ketan hijau yang lembut, berisi parutan kelapa dan gula merah, lalu dikukus dalam balutan daun pisang.
Dari satu dapur ke dapur lain, dari tepi Sungai Musi hingga ke sungai Barito, kue pare berkelana — dibawa oleh tangan para perantau, dibumbui oleh waktu, dan disatukan oleh rasa.
Nama yang Menipu, Rasa yang Menyembuhkan
Meski bernama pare, jajanan ini sama sekali tak menyimpan rasa pahit. Justru sebaliknya — manis, lembut, dan sedikit gurih. Bentuk bergelombangnya menyerupai permukaan sayur pare, sementara warnanya yang hijau berasal dari daun pandan atau pewarna alami.
Ketika dikukus, aroma daun pisang yang menguap perlahan memenuhi dapur, bercampur wangi kelapa dan gula merah. Proses itu tak sekadar memasak, tapi seperti upacara kecil yang merayakan kesabaran dan ketelitian. Di rumah-rumah tua Palembang, para ibu biasanya membuat kue pare menjelang Ramadan atau perayaan keluarga.
Kue ini bukan sekadar makanan — ia adalah pesan lembut dari masa lalu, tentang manisnya kesederhanaan dan pentingnya menjaga tradisi.
Menjaga Rasa di Tengah Perubahan
Kini, kue pare semakin jarang terlihat. Modernisasi dapur, perubahan selera, dan ketiadaan generasi penerus membuatnya hampir lenyap dari rak-rak pasar. Namun di beberapa sudut kota, masih ada yang setia mempertahankannya.
Di sebuah rumah di kawasan Seberang Ulu, seorang nenek bernama Mak Idah masih membuat kue pare setiap bulan puasa. “Kalau tidak dibuat, rasanya ada yang hilang,” ujarnya sambil membungkus adonan hijau dengan daun pisang muda.
Uap panas dari kukusan mengaburkan wajahnya sesaat, namun senyum lembutnya tetap terlihat — seperti mengingat masa ketika kue ini masih menjadi kebanggaan setiap rumah tangga.
Lebih dari Sekadar Penganan
Dalam setiap gigitan kue pare, tersimpan jejak panjang sejarah dan identitas. Ia bukan hanya kudapan, tapi simbol dari perjalanan lintas pulau, dari budaya yang berpadu tanpa kehilangan akar.
Seperti Sungai Musi yang tak henti mengalir, kue pare terus menjaga arus kenangan Palembang — mengingatkan bahwa di balik rasa manisnya, ada kisah panjang tentang manusia, alam, dan waktu yang menyatu dalam sepotong kue hijau kecil.


