Di selatan Bajawa, di sebuah punggungan bukit yang menghadap langsung ke siluet Gunung Inerie yang menjulang seperti piramida alam, berdirilah Kampung Bena—sebuah permukiman megalitik yang bukan hanya sekadar desa, melainkan sebuah lembaran hidup dari masa lampau yang masih berdenyut hingga hari ini.
Perjalanan menuju tempat ini sendiri sudah terasa seperti sebuah ritual kecil. Dari pusat Kota Bajawa, jalanan berkelok membawa kendaraan menyusuri sekitar 19 kilometer ke arah selatan, melintasi lereng-lereng hijau sebelum akhirnya mencapai Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, tempat Kampung Bena berada.
Dari Labuan Bajo, perjalanan darat menuju Bajawa memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam, menyusuri tulang punggung Pulau Flores yang berliku, seolah menguji kesabaran sebelum menghadiahkan pemandangan yang tak ternilai.
Kampung Bena terletak di puncak bukit dengan latar belakang Gunung Inerie yang seakan mengawasinya siang dan malam. Dari tempat ini, hamparan perbukitan terlihat seperti gelombang beku yang dibentuk oleh waktu.
Lihat postingan ini di Instagram
Angin berembus membawa aroma tanah, dedaunan kering, dan sesekali asap kayu bakar dari rumah penduduk. Di kejauhan, langit seolah bertemu dengan lereng-lereng gunung, menciptakan lanskap yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapan kebesaran alam.
Bagi masyarakat Bena, Gunung Inerie bukan hanya latar visual yang indah. Gunung ini adalah entitas yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Dewa Yeta, sosok penjaga dan pelindung kampung.
Kepercayaan bahwa kehidupan mereka berada di bawah lindungan kekuatan spiritual gunung merupakan ciri khas masyarakat lama yang memuja gunung sebagai tempat para dewa. Keyakinan itu tidak ditulis dalam kitab, tetapi hidup di dalam tutur, ritus, dan tata letak kampung itu sendiri.
Desa Bena terdiri atas kurang lebih 45 buah rumah tradisional yang tersusun melingkar membentuk huruf U. Susunan ini bukan kebetulan, melainkan struktur sosial dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam lingkaran rumah-rumah tersebut, hidup sembilan suku: Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Setiap suku menempati satu tingkat ketinggian tertentu, membentuk sembilan tingkatan yang menjadi pembeda hirarki sekaligus identitas masing-masing kelompok. Di atap setiap rumah, terdapat hiasan yang berbeda satu sama lain, menandai garis keturunan yang menetap di dalamnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Di bagian tengah kampung, terbentang sebuah halaman yang oleh masyarakat disebut kisanatapat. Inilah ruang sakral, pusat spiritual dan sosial kampung Bena. Di sini berdiri dua bangunan penting yang menjadi simbol leluhur: nga’du dan bhaga.
Nga’du melambangkan nenek moyang laki-laki, berupa tiang tunggal dari kayu keras yang menopang atap serat ijuk, menyerupai sebuah payung raksasa yang membumi. Tiang nga’du juga berfungsi sebagai tempat menggantung hewan kurban saat upacara adat digelar.
Di seberangnya, berdiri bhaga, simbol nenek moyang perempuan, berupa miniatur rumah yang menjadi penyeimbang keberadaan nga’du. Keduanya menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia para leluhur—tempat doa, persembahan, dan komunikasi spiritual dilakukan.
Di sekeliling halaman, kehidupan sehari-hari terus berdenyut tenang. Seorang bapak tampak dengan tekun mengolah batok kelapa, mengubahnya menjadi kerajinan tangan yang kelak akan dibeli wisatawan sebagai buah tangan dari Bena.
Di sudut lain, seorang ibu duduk bersila di depan alat tenun tradisional, jemarinya bergerak cekatan, menyusun benang demi benang menjadi kain ikat khas Flores. Motif-motif yang lahir dari tangan mereka bukan sekadar ornamen, melainkan bahasa visual yang menyimpan kisah leluhur, alam, dan kehidupan.
Biji-biji kopi khas Bena dijemur di bawah terik matahari, menghampar di atas anyaman bambu. Aromanya yang perlahan menguap menyatu dengan udara pegunungan yang sejuk. Setiap rumah hampir selalu memajang hasil tenun atau songket di depan pintu, menggantungnya seperti bendera kecil yang menyambut siapa pun yang datang.
Kain dan syal ini biasa dijual kepada pengunjung dengan kisaran harga mulai dari sekitar 75.000 hingga 500.000 rupiah, bergantung pada ukuran, kerumitan motif, dan kualitas bahan.
Meski kini telah dikenal luas dan menjadi salah satu tujuan utama wisata budaya di Kabupaten Ngada, kehidupan di Bena tetap berjalan dalam ritme yang nyaris sama seperti puluhan, bahkan ratusan tahun silam. Tidak ada tiket masuk resmi untuk mengunjungi kampung ini.
Para tamu hanya diminta mengisi buku tamu di pondok informasi wisata dan memberikan sumbangan sukarela sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian kampung. Sebuah tindakan kecil yang terasa sepadan dengan pengalaman besar yang ditawarkan.
Menariknya, pesona Bena telah menembus batas negara. Desa ini menjadi salah satu destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara, khususnya dari Jerman dan Italia. Mereka datang bukan hanya untuk memotret keindahan, tetapi untuk menyentuh jejak sejarah, merasakan napas kebudayaan yang masih hidup, dan menyaksikan bagaimana manusia modern dapat tetap berdampingan dengan nilai-nilai kuno yang bertahan sejak zaman batu.
Berjalan di antara batu-batu megalitik, berdiri di depan rumah-rumah beratap ilalang, dan memandang Gunung Inerie yang menjulang di latar belakang, waktu seakan melambat. Di sini, masa lalu tidak menjadi cerita yang telah usai. Ia hadir dalam wujud nyata: pada susunan batu, pada nyanyian angin, pada tatapan ramah penduduknya.
Bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi hidup di persimpangan masa, di mana alam, leluhur, dan manusia masih terjalin dalam satu tarikan napas yang sama, singgahlah sejenak di Kampung Bena.


