Tarian Iki Mea merupakan warisan budaya takbenda yang merepresentasikan identitas masyarakat adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Artikel ini mengulas latar belakang historis, simbolisme gerakan, serta dinamika sosial yang memicu pergeseran fungsi tarian ini dari medium ritual sakral menjadi seni pertunjukan profan di era modern.
Secara etimologis, nama tarian ini berasal dari bahasa daerah setempat, di mana kata “Iki” merujuk pada burung rajawali atau elang, sedangkan “Mea” berarti malu. Berdasarkan penelusuran sejarah lisan dan kajian budaya, koreografi Tarian ini diinspirasi oleh pengamatan mendalam masyarakat Dhawe terhadap perilaku dan gerak-gerik burung rajawali yang anggun namun tampak “malu-malu”.
Berdasarkan penelitian sosiologi budaya yang dilakukan Stefania Claudia Tu (2024) Peneliti dari Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Ia melakukan penelitian skripsi yang berfokus pada dinamika sosial tarian tersebut dengan judul ilmiah “Pergeseran Fungsi Tarian Iki Mea Pada Masyarakat Adat Suku Dhawe Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo”
Pada mulanya tidak diciptakan sebagai sarana hiburan semata, melainkan memegang peranan esensial dalam dimensi spiritual. Tarian ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Upacara Adat Gua Ru.
- Ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan (Ndua Dewa) dan para leluhur (Nabe To’a) atas kelimpahan hasil bumi dan perlindungan ladang pertanian.
- Ritus yang menegaskan kembali hukum adat, kesatuan suku, dan kebersamaan antarwarga desa.
Gerakan dan Musik Pengiring
Secara koreografis, Iki Mea didominasi oleh gerakan tangan yang mengepak menyerupai sayap burung rajawali, dikombinasikan dengan hentakan kaki yang seirama. Gerakan ini menuntut keselarasan yang tinggi antarpenari, mencerminkan nilai gotong royong (kebersamaan).
Pertunjukan tari ini diiringi oleh Go Laba (ansambel musik yang terdiri dari gong dan gendang). Ketukan Go Laba bertindak sebagai pemandu tempo sekaligus pembangun atmosfer magis dan kegembiraan.
Tantangan dan Upaya Konservasi
Penelitian ini menggarisbawahi adanya pergeseran fungsi. Di satu sisi, komersialisasi dan adaptasi tarian menjadi tarian penyambutan membuat Iki Mea tetap eksis dan dikenal luas di luar Flores. Namun di sisi lain, muncul ancaman pengikisan nilai.
Banyak generasi muda saat ini memperagakan gerakan Iki Mea hanya sebagai kebutuhan nilai seni panggung, tanpa dibekali pemahaman filosofis mengenai sejarah, akar ritual Gua Ru, dan esensi dasar dari tarian tersebut.
Oleh karena itu, para peneliti merekomendasikan perlunya adanya nilai pendidikan budaya berbasis muatan lokal di sekolah-sekolah serta pembuatan dokumentasi budaya yang komprehensif bersama para tokoh adat (Mosa Laki) Dhawe guna menjaga otentisitas nilai Iki Mea agar tidak hilang digilas zaman.
Referensi Utama:
- Pergeseran Fungsi Tarian Iki Mea Pada Masyarakat Adat Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. (Studi Repositori Universitas Katolik Widya Mandira).
- Fungsi Alat Musik Go Laba dalam mengiringi tarian Iki Mea.



