Kekayaan budaya Nusantara tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Salah satu warisan kesenian tradisional yang bernilai tinggi namun jarang terekspos secara luas adalah alat musik Beghu, sebuah ansambel musik tradisional khas yang berasal dari Kampung Gezu, Desa Kotakeo I, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan kajian ilmiah etnomusikologi yang dituangkan dalam jurnal Jurnal Citra Pendidikan (JCP) oleh Rosalinda Ceme, Florentianus Dopo, dan Sena Radya Iswara Samino (2021), Beghu bukan sekadar instrumen bunyi, melainkan identitas kultural yang erat kaitannya dengan upacara adat sakral, seperti ritual Ka Wete.
Mengenal Karakteristik dan Jenis Alat Musik Beghu
Secara organologi, Beghu dikategorikan sebagai ansambel campuran yang terdiri atas dua jenis instrumen utama:
Gendang (Membranofon): Berjumlah dua buah, yang dibedakan menjadi gendang panjang (laba lewa) dan gendang pendek (laba bhoko). Gendang panjang berfungsi sebagai pengarah—mengawali, mengakhiri, hingga menandai pergantian ragam pukulan gendingan.
Gong Bambu (Idiofon): Berjumlah 7 pasang (total 14 buah) yang terbuat dari bambu petung berkualitas tinggi. Setiap pasang memiliki ukuran panjang dan diameter lubang resonansi yang berbeda (berkisar antara 1 cm hingga 2 cm) untuk menghasilkan variasi nada tinggi dan rendah.
Nama “Beghu” sendiri konon diambil dari sejarah vegetasi lokal, di mana pohon meranti (kayu doya) dan rumpun bambu tumbuh berdampingan di satu kawasan yang sama tempat instrumen ini pertama kali dirintis oleh para leluhur.
Kajian Organologi: Ketelitian Seni Pembuatan Tradisional
Pembuatan instrumen Beghu masih dipertahankan secara tradisional menggunakan tangan (handmade) tanpa bantuan mesin modern, menuntut ketelitian tinggi dari para pembuatnya:
Pemilihan Kayu Doya (Meranti): Badan gendang menggunakan kayu doya tua yang tumbuh di daerah pegunungan (genus Shorea). Kayu ini dipilih karena bobotnya yang ringan, kokoh, tahan lama, serta mampu menghasilkan resonansi suara yang kuat tanpa mudah retak.
Membran Kulit Domba: Bagian penutup gendang (dhula) menggunakan kulit domba. Meskipun lebih sulit didapatkan dan bernilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan kulit sapi atau kerbau, kulit domba dipilih karena menghasilkan suara yang jauh lebih nyaring, tahan lama, dan tidak mudah kendur.
Bambu Petung untuk Gong: Pemilihan bambu tua ditandai dengan adanya bercak putih di permukaan, tidak berpelepah, dan mengeluarkan bunyi nyaring saat diketuk.
Teknik Permainan
Memainkan ansambel Beghu membutuhkan kekompakan dan teknik khusus:
- Posisi Tubuh: Para pemain umumnya duduk melingkar dalam formasi bundar saat mengiringi upacara adat—mencerminkan nilai kebersamaan dan kesetaraan sosial dalam masyarakat adat. Khusus untuk pemain gendang, posisi terkadang disesuaikan menjadi berdiri agar keleluasaan pukulannya terjaga.
- Penggunaan Stik dan Tangan: Pemain gendang menggunakan kombinasi satu stik di tangan kanan dan tepukan telapak tangan kosong di tangan kiri. Sementara itu, pemain gong bambu menggunakan dua stik di kedua belah tangan untuk mengatur pola ritmik yang dinamis.
Pelestarian dan Tantangan Generasi
Seiring perkembangan zaman, keberadaan alat musik Beghu menghadapi tantangan regenerasi. Pengetahuan mendalam mengenai teknik permainan dan proses pembuatan instrumen ini kini sebagian besar hanya dikuasai oleh para tokoh tetua adat dan sedikit pewaris yang secara khusus ingin belajar.
Oleh karena itu, dokumentasi ilmiah dan publikasi seperti yang dilakukan melalui riset akademis di Nagekeo menjadi langkah krusial agar warisan budaya luhur ini tidak pudar, tergerus zaman, atau bahkan punah dari bumi Nagekeo.




