Terletak di atas puncak bukit yang dikelilingi jurang dan pepohonan lebat, Kampung Tradisional Ola Dhawe menyimpan lembaran sejarah peradaban masa lampau di Nagekeo. Berdasarkan ulasan dalam Traditional Villages of Nagekeo, perkampungan ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga monumen hidup dari ketangguhan para leluhur dalam menghadapi bencana alam dan ancaman keamanan di masa silam.
Asal-Usul Kampung Adat Ola Dhawe dan Peristiwa Mesi Resi
Nama Ola Dhawe tidak bisa dilepaskan dari kisah turun-temurun tentang “Mesi Resi”, sebuah bencana air bah besar yang terjadi berabad-abad silam. Dalam narasi sejarah lokal, musibah tersebut meluluhlantakkan wilayah dataran rendah dan memaksa penduduk mencari tempat perlindungan yang lebih tinggi.
Dikisahkan bahwa sepasang saudara, yakni Dhawe (sang kakak laki-laki) dan Kowa (sang adik perempuan), berhasil menyelamatkan diri dengan menumpangi sebuah perahu atau kowa. Perahu tersebut akhirnya berlabuh dan berhenti di atas puncak bukit yang kini berdiri sebagai perkampungan Ola Dhawe. Seiring berjalannya waktu, keturunan mereka menetap di sana, dan tempat tersebut dinamai Ola Dhawe yang secara harfiah merepresentasikan tanah atau tempat milik Dhawe.
Pada masa lampau ketika konflik antarsuku masih kerap terjadi, pemilihan lokasi permukiman sangat bergantung pada faktor keamanan dan pertahanan. Kampung adat ini memiliki letak geografis yang sangat mendukung aspek pertahanan tersebut:
-
Topografi Berbukit dan Terjal: Perkampungan ini berada di atas puncak bukit yang dikelilingi oleh jurang terjal dan pepohonan lebat, sehingga menyulitkan pihak luar atau musuh untuk menembus pertahanan kampung.
- Iklan - -
Diapit Dua Aliran Sungai Besar: Posisi geografis semakin terlindungi oleh dua sungai besar yang mengalir di bagian kaki bukit, yaitu Sungai Aemau di sisi timur dan Sungai Aesesa di sisi barat. Keberadaan benteng alami berupa topografi curam dan aliran sungai ini menjadikan Ola Dhawe sebagai tempat berlindung yang sangat aman bagi para leluhur di masa itu.
Pelestarian Warisan Budaya
Meski mobilitas masyarakat modern kini telah banyak membawa keturunan suku berpindah ke perkotaan, eksistensi Ola Dhawe tetap dijaga sebagai pusat identitas kultural. Rumah-rumah adat (Sa’o) dan tatanan kampung tradisional terus dipelihara sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dahulu berjuang bertahan hidup di atas puncak bukit tersebut.
Keberadaan kampung tradisional menjadi bukti nyata kekayaan jejak peradaban di Nagekeo, sekaligus memperkaya khazanah warisan budaya Nusantara yang patut terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi mendatang.





