Perubahan zaman turut mengubah cara masyarakat Nagekeo mengenal dan mewariskan pengetahuan budaya. Jika dahulu pengetahuan banyak tumbuh melalui cerita para tetua, keterlibatan dalam adat, dan pengalaman sehari-hari, kini generasi muda berhadapan dengan ruang belajar yang lebih luas melalui pendidikan, teknologi, dan media digital.
Di tengah perubahan itu, Peo ‘Oko Nabe Fa menjadi salah satu pengetahuan budaya yang penting untuk kembali dikenali dan didokumentasikan. Peo tidak semata-mata hadir sebagai simbol, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, identitas, hubungan sosial, dan nilai kebersamaan masyarakat Nagekeo.
Nagekeo hidup dalam keberagaman suku dan komunitas adat. Setiap kelompok memiliki sejarah dan identitasnya sendiri. Namun, kehidupan bersama juga dibangun melalui hubungan, penghormatan, dan ruang kebersamaan. Dalam konteks tersebut, Peo menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami bagaimana persatuan dan hubungan antarsuku dimaknai dalam kehidupan masyarakat.
Pengetahuan semacam ini menghadapi tantangan ketika pola pewarisannya mulai berubah. Berkurangnya kesempatan generasi muda untuk belajar langsung dari para tetua dapat membuat sebuah simbol tetap dikenal, sementara cerita, pengalaman, dan makna di baliknya perlahan semakin jauh dari ingatan.
Karena itu, diperlukan upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan tersebut secara lebih terencana. Salah satunya melalui produksi film dokumenter yang akan mengangkat filosofi Peo ‘Oko Nabe Fa melalui wawancara dengan tokoh adat, tetua masyarakat, pelaku budaya, dan generasi muda. Dokumentasi juga akan memperhatikan lingkungan sosial dan budaya sebagai ruang tempat pengetahuan tersebut tumbuh dan diwariskan.
Produksi film ini diarahkan bukan sekadar untuk merekam keberadaan Peo, tetapi untuk menggali cerita dan pemaknaan yang hidup di tengah masyarakat. Film diharapkan dapat menjadi arsip sekaligus media pembelajaran antargenerasi.
Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah untuk menjaga agar pengetahuan mengenai Peo ‘Oko Nabe Fa tidak berhenti pada bentuk fisiknya.
Pada akhirnya, pelestarian budaya tidak hanya berarti mempertahankan sebuah simbol, tetapi juga menjaga pengetahuan, identitas, dan nilai kebersamaan yang menyertainya. Produksi film dokumenter ini menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang tersebut, sekaligus menghadirkan kembali pembicaraan mengenai Peo dalam kehidupan masyarakat Nagekeo hari ini.





