Di antara perbukitan hijau dan hamparan sawah luas yang membentang di Mamasa, berdiri sebuah struktur megah yang telah menantang waktu selama lebih dari empat abad. Banua Layuk Rambu Saratu’, sebuah rumah adat yang bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol peradaban yang telah lama berakar dalam tanah Toraja Mamasa.
Terletak sekitar 3 kilometer di sebelah utara Mamasa Kota, Banua Layuk ini berdiri kokoh di Kampung Rantebuda, hanya 30 meter dari jalan poros Mamasa-Makale. Perjalanan menuju lokasi ini menyajikan pemandangan memukau: sawah-sawah hijau terbentang luas dengan latar belakang Gunung Mambulilling yang megah.
Dari kejauhan, air terjun yang tersembunyi di antara tebing-tebing batu menjadi penanda bahwa alam Mamasa menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang tampak di permukaan.

Dua jalur utama dapat ditempuh untuk mencapai Rambu Saratu’. Jalur pertama melalui Kampung Rantebuda, sedangkan jalur kedua lebih berliku, melewati Kampung Tua Tondok Bakaru, taman anggrek lokal, hingga ke sumber air panas Kole sebelum akhirnya tiba di tujuan.
Daya Tarik dan Keunikan
Banua Layuk Rambu Saratu’ adalah sebuah mahakarya arsitektur tradisional. Dengan ukuran 16 x 4,5 meter untuk badan rumahnya—atau 36,26 x 7,5 meter jika dihitung bersama atap menjulang dan sayap rumah (longa banua)—bangunan ini merupakan bukti keahlian leluhur dalam mendesain struktur yang kuat dan tahan lama.
Tiang penyangganya, yang disebut penulak, memiliki keliling hingga 2,8 meter dan menjulang setinggi 10 meter, sebuah dimensi yang bahkan jarang ditemukan di rumah adat lainnya kecuali di Banua Layuk Sesena Padang Orobua.
Di sekeliling rumah ini berdiri lumbung-lumbung padi (alang pare), yang masing-masing memiliki tiang kokoh dari kayu palam lokal yang disebut banga. Lumbung utama, dengan delapan tiang, berdiri gagah di depan rumah, menghadap ke arah yang berlawanan dengan Banua Layuk, sesuai dengan filosofi keseimbangan dalam adat Mamasa.

Namun, keunikan rumah ini bukan hanya pada dimensinya, melainkan juga pada ornamen yang tersemat pada tiang-tiangnya. Kepala kerbau kayu yang terpahat di bagian depan rumah melambangkan kekayaan dan kemakmuran, sedangkan kepala kuda di bagian belakang mencerminkan keberanian serta kepemimpinan yang berwibawa.
Di dinding depan rumah menjulang badong, struktur yang tidak menyentuh tiang penyangga utama, melambangkan jalan menuju alam baka yang hanya bisa ditempuh melalui upacara adat dan pengorbanan hewan seperti kerbau dan babi.
Sejarah dan Filosofi Rambu Saratu’
Rambu Saratu’ berarti “seratus asap”, sebuah metafora yang menggambarkan seratus cara dalam menyelesaikan persoalan di dalam masyarakat adat. Rumah ini telah menjadi pusat keputusan dan penerima tamu adat bagi wilayah Kondo Sapata’ Wai Sapalelean sejak zaman nenek moyang.
Menurut sejarah turun-temurun, Rambu Saratu’ pertama kali didirikan oleh Nene’ Guali Padang, putra dari Sabalima (Sawalima) yang bermukim di Salu Kuse. Generasi demi generasi, kepemimpinan rumah adat ini berpindah tangan, mulai dari Ne’ Goyang hingga ke Ambe’ Yulianus Arruan Bonga, pemangku adat terakhir yang wafat pada tahun 1987.

Ambe’ Yulianus Arruan Bonga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, yang tidak hanya melestarikan adat istiadat tetapi juga membuka jalan bagi pariwisata di Mamasa. Bersama Drs. Arianus Mandadung, ia mengembangkan konsep wisata budaya di Banua Layuk, di mana wisatawan dapat menikmati jamuan makan siang tradisional di lumbung padi, sebuah pengalaman yang masih bertahan hingga saat ini.
Waktu Terbaik Berkunjung
Untuk menikmati keindahan Banua Layuk Rambu Saratu’ dalam cahaya terbaik, waktu kunjungan yang disarankan adalah pagi hingga siang hari. Pada sore hari, bayangan pohon yang tumbuh di sebelah barat rumah akan menutupi sebagian besar bangunan, membuatnya lebih gelap dan kurang ideal untuk fotografi.