Kabut pagi perlahan naik dari tepian Sungai Lamandau ketika suara gong pertama kali terdengar—dalam, berat, dan menggetarkan udara lembap yang menggantung di bawah kanopi hutan Kalimantan Tengah. Suara itu mengalun pelan dari sebuah rumah kayu di tepi kampung, menggema ke lembah, menuju deretan bukit yang seperti tidur di balik tirai kabut.
Bagi masyarakat Dayak Tomun, suara gong tersebut bukan hanya penanda duka. Itu adalah panggilan: undangan spiritual bagi siapa pun yang mendengarnya untuk turun tangan, datang, menari, dan membantu.
Tak lama kemudian, dari jalan setapak yang dipenuhi dedaunan basah, sosok-sosok bergerak muncul perlahan. Mereka tidak memperlihatkan wajahnya. Wajah-wajah itu disembunyikan di balik luha, topeng kayu yang dipahat menyerupai hewan-hewan hutan—beruang madu, burung enggang, babi hutan, hingga makhluk-makhluk simbolik yang hanya hidup dalam cerita leluhur.
Gerak mereka berayun pelan, kemudian menghentak lembut mengikuti ritme yang sulit ditentukan antara musik, doa, dan kesedihan. Di sinilah Babukung bermula—di tengah kabut, di antara ketukan gong, dan di dalam ruang terbuka antara dunia manusia dan dunia roh.
Ritual Kematian yang Menjadi Penjaga Kehidupan
Bagi masyarakat Dayak Tomun, Babukung bukan sekadar tarian. Ia adalah ritual kematian, sebuah upacara kuno yang mengiringi perjalanan arwah menuju alam lain. Nama bukung merujuk pada para penari yang mengenakan topeng, sedangkan luha adalah topeng itu sendiri—simbol yang menutupi identitas para pembawa bantuan, agar pemberian itu menjadi murni, tanpa pamrih, tanpa nama.
Tradisi ini hidup di pedalaman Lamandau, Katingan, dan beberapa wilayah lain di Kalimantan Tengah—wilayah yang masih memegang erat ajaran Kaharingan, sistem kepercayaan lokal yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar masuk ke pulau ini. Dalam pemahaman Dayak Tomun, kematian bukan akhir; ia adalah perjalanan. Arwah harus dibimbing, dijaga, dan ditemani agar tidak diganggu roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitar kampung maupun di hutan.
Di sinilah fungsi Babukung menjadi penting. Para bukung datang bukan hanya membawa hiburan, tetapi juga membawa kekuatan simbolik yang diyakini mampu menolak gangguan roh buruk, sekaligus membantu arwah melewati tahapan perjalanan menuju Tiwah—ritual besar pemurnian dan pelepasan arwah dalam tradisi Kaharingan.
Penjaga, Pelindung, dan Penyamar
Topeng luha adalah jantung visual dari Babukung. Setiap luha dipahat dari kayu pilihan, dihias menurut karakter hewan tertentu, lalu diberi cat tanah, serat, atau bulu burung. Tidak ada dua luha yang sama; masing-masing membawa cerita, simbol, dan fungsi.
Luha bukan sekadar hiasan. Ia adalah penyamar identitas, sebuah etika sosial yang kuat. Ketika seseorang memberikan bantuan kepada keluarga yang berduka—baik berupa uang, beras, babi, ayam, maupun hasil kebun—ia melakukannya sebagai bukung, bukan sebagai dirinya sendiri. Dalam tradisi ini, kebaikan adalah tindakan kolektif, bukan prestasi individu. Dan topeng menjadi penanda bahwa yang memberi bukanlah pribadi tertentu, melainkan masyarakat seluruhnya.
Para penari, dengan tubuh yang ditutupi kain hitam dan luha yang menyalakan aura misterius, bergerak mengikuti irama yang dimainkan para pemusik: gong, gendang, dan alat musik tradisional lainnya. Gerak tari mereka meliuk perlahan, lalu tiba-tiba menghentak—seakan meniru gerakan hewan yang mereka personifikasikan.


