Babukung, Topeng-Topeng Penjaga Arwah di Pedalaman Lamandau

Setiap tahun, festival Babukung memasuki Kalender of Event resmi Kementerian Pariwisata, menjadi salah satu daya tarik Kalimantan Tengah.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Tari yang Menghibur, Irama yang Menenangkan Luka

Dalam kepercayaan Dayak Tomun, kesedihan yang berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan alam. Karena itu Babukung hadir sebagai jalan untuk menghibur keluarga duka, mengangkat beban psikologis, dan menyalurkan energi positif agar rumah yang ditinggali arwah tidak diliputi kesuraman. Para bukung datang dari desa tetangga, berjalan beriringan menuju rumah duka, menari sambil membawa persembahan.

Tarian Babukung biasanya dilakukan selama malam-malam ganjil—tiga, lima, atau tujuh malam—sesuai kemampuan keluarga dan komunitas. Dalam tempo itu, suasana rumah duka berubah menjadi ruang ritus yang sarat makna.

Di satu sisi ada kedukaan; di sisi lain ada tawa kecil yang timbul ketika bukung melakukan gerakan jenaka untuk membuat keluarga tetap kuat. Tawa tidak dianggap tabu. Justru tawa itu diyakini membantu arwah pergi dengan ringan.

- Advertisement -

Dari Ritual Kematian Menjadi Festival Kehidupan

Seiring waktu, tradisi Babukung tidak lagi hanya menjadi ritual kematian. Pemerintah Daerah Lamandau dan Kementerian Pariwisata berupaya merawat warisan budaya ini dengan mendorongnya tampil di ruang publik. Festival Babukung kemudian lahir—sebuah perayaan budaya yang mempertahankan esensi, tanpa melepaskan akar ritualnya.

Di festival itu, luha-luha dipahat lebih halus, musik ditata lebih rapi, dan penari yang biasanya tampil dalam suasana duka kini menunjukkan kebolehannya di depan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Namun meski tampil di panggung modern, Babukung tetap membawa pesan lama: solidaritas, gotong royong, dan penghormatan kepada mereka yang telah mendahului.

Setiap tahun, festival ini memasuki Kalender of Event resmi Kementerian Pariwisata, menjadi salah satu daya tarik Kalimantan Tengah. Bagi banyak orang, Babukung mungkin kini tampak sebagai seni pertunjukan. Namun di balik setiap tarian, tersembunyi jejak panjang dari dunia spiritual yang pernah menghidupi masyarakat Tomun berabad-abad.

- Advertisement -
Baca Juga :  Lenong: Tawa, Kritik, dan Tradisi yang Tak Pernah Usang dari Tanah Betawi

Makna yang Menjaga Identitas Dayak Tomun

Babukung memadukan berbagai lapisan makna yang membuatnya bertahan.

Ia adalah hiburan bagi keluarga duka, tetapi sekaligus upacara tolak bala. Ia adalah tindakan memberi, tetapi juga cara menjaga anonimitas. Ia adalah perayaan komunitas, tetapi juga penghormatan kepada roh leluhur. Ia adalah seni pertunjukan yang memikat, tetapi tetap menjadi bagian dari ritual pemakaman yang sakral.

Dalam setiap topeng yang menari, terdapat filosofi bahwa manusia tidak pernah sendirian. Kebaikan bukan milik pribadi, melainkan rasa bersama yang terbangun dari adat, hutan, dan sejarah panjang kehidupan di pedalaman Kalimantan.

- Advertisement -

Meski kini jumlah penganut Kaharingan berkurang, dan beberapa wilayah mulai meninggalkan praktik lama, Babukung tetap bertahan berkat usaha masyarakat, pemerintah lokal, dan para pelestari budaya. Di Lamandau, Katingan, dan beberapa desa kecil yang menghadap hutan, ritual ini masih dijalankan ketika kabar duka terdengar melalui dentang gong.

Setiap dentang tersebut selalu mengingatkan bahwa Babukung bukan hanya tentang kematian. Ia adalah tentang kehidupan—tentang bagaimana manusia menjaga hubungan dengan alam, roh leluhur, dan satu sama lain, dalam harmoni yang terjaga lintas generasi.