Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton

Yamu haroa yang dadakan setiap tanggal 10 Muharram Tanggal 10 Muharram dirayakan oleh para sufi dengan tersedu-sedu

| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Tradisi Haroa adalah ritual perayaan hari besar Islam. Pelaksanaannya dilaksanakan di rumah-rumah warga yang dukuti semua anggota rumah dan tetangga yang diundang baik yang berbeda suku maupun agama.

Mereka duduk mengumpul di satu ruangan, dan di tengahnya ada nampan yang berisikan kue-kue seperti onde-onde, cucur (cucuru), bolu, baruasa (kue beras), ngkaowi-owi (ubi goreng), dan sanggara (pisang goreng).

Semua kue tersebut mengelilingi piring yang berisikan nasi dan di atasnya ada telur goreng. Usai pembacaan doa, acara selanjutnya adalah makan-makan. Makna ritual adalah memperkokoh jaringan sosial di antara seluruh anggota masyarakat.

Silaturahmi dengan tetangga, serta kian akrab dengan semua keluarga. Dalam setahun, haroa bisa dilaksanakan selama beberapa kali, sesuai dengan hari besar yang dirayakan.

Misalkan Pekandeana anana maelu, yamu haroa yang dadakan setiap tanggal 10 Muharram. Tanggal 10 Muharram dirayakan oleh para sufi dengan tersedu-sedu. Pada hari ini, cucu Rasulullah, Hussein bin Ali, dibantai bersama seluruh keluarga dan pengikutnya

Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton
Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton

Makanya, dikalangan penganut ahlul bayt atau syiah, tanggal 10 Muharram senantiasa dirayakan agar menjadi pelajaran bagi generasi penerus. Ketika Hussem wafat, maka putranya Imam Ali Zamal Abidin (atau dalam sejarah dikenal sebagai Imam Sajjad karena saking seringnya bersujud) menjadi yatim.

Dalam bahasa Buton, yatim disebut maelu. Demi memberi kekuatan bagi Imam Ali Zaimal Abdun agar tegar dalam meneruskan amanah Rasululah untuk menegakkan agama Islam, orang-orang Buton mengadakan haroa pekandeana anana maelu (makan-makannya anak yatim).

Pelaksanaannya adalah dengan cara memanggil dua orang anak yatim berusia 4 sampai 7 tahun (sesuar umur Imam Ali). Kemudian dari kalangan keluarga yang melakukan upacara, secara bergiliran ikut menyuapi dua anak tersebut.

Baca Juga :  Pantai Lagundri, Pacu Papan Selancarmu Disini!

Sesudahnya, mereka diberi uang sekedarnya. Tradisi ini merupakan tradisi sufistik yang kuat di masyarakat Buton yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam.

- Advertisement -

Haroana Maludu, yaitu haroa yang dilakukan pada bulan Rabiul Awal untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Lahwnya Muhammad adalah berita gembira yang menjadi berkah bagi semesta.

Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton
Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton

Muhammad adalah representasi dari sosok yang membawa jalan terang bagi manusia Untuk rtu, kelahwannya dwayakan dengan haroa dan membaca doa syukur bersama-sama.Menurut adat Buton, haroa tersebut dibuka oleh sultan pada malam 12 hari bulan.

Kemudian untuk kalangan masyarakat biasa memilih salah satu waktu antara 13 hari bulan sampai 29 hari bulan Rabiul Awal Setelah itu ditutup oleh Haroana Hukumu pada 30 hari bulan Rabul Awal Masyarakat.

Menjalankannya setiap tahun dengan membaca riwayat Nabi Muhammad Kadangkala selesai haroa, dilanjutkan dengan lagu-lagu Maludu sampai selesai, yang biasanya dinyanyikan dari waktu malam sampai siang hari

Haroana Rajabu, yaitu haroa yang dilakukan untuk memperingati para syuhada yang gugur di medan perang dalam memperjuangkan Islam bersama-sama Nabi Muhammad SAW. Haroana Rajabu dilakukan pada hari Jumat pertama di bulan Rajab dengan melakukan tahlilan serta berdoa semoga para syuhada tersebut diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah

Malona Bangua, yaitu haroa yang dilaksanakan pada hari pertama Ramadhan. Pada masa silam, hari pertama Ramadhan dimer’ahkan dengan dentuman meriam Kini, dentuman meriam tu sudah tidak terdengar. Masyarakat merayakannya dengan doa bersama di rumah serta membakar lilin di kuburan pada malam hari.

Ounua, yaitu upacara yang berkaitan dengan Nuzulul Our’an (Ounut) Upacara ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan suci Ramadhan atau pada 15 malam puasa.

Baca Juga :  Kelimutu dan Nada Harmoni Kampung Adat Saga

Dulunya, masyarakat memeriahkannya dengan membawa makanan ke masjid keraton dan dimakan secara bersama-sama menjelang waktu sahur. Ounua dilakukan usai salat tarwih dan dirangkaian dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid.

Kadhiria, yaitu upacara yang berkastan dengan turunnya Lailatul Oadr di bulan suci Ramadhan. Upacara ini tata pelaksanannya mirip dengan Ounua, yakni setelah salat Tarwih dirangkaikan dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid. Biasanya dilaksanakan pada 27 malam Ramadhan karena diyakini pada malam itulah turunnya Lailatul Oadr.

Mau lihat keindahan Indonesia lainnya?
Yuk tekan tombolnya!

Bagikan

Yuk, sama-sama mengenalkan potensi keindahan Indonesia

BACA JUGA

- Advertisement -