Tari Molulo, Simbol Persahabatan Muda-Mudi Suku Tolaki

Pada zaman dahulu, tari molulo hanya digunakan pada upacara-upacara adat seperti pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi alat musing gong.

Mau nulis? Lihat caranya yuk!
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia!

Tari Malulo atau Tari Lulo (Berasal dari Bahasa Tolaki : Molulo) merupakan kesenian tradisional masyarakat Sulawesi Tenggara yang masih sering dilaksanakan. Tarian lulo adalah salah satu warisan budaya masyarakat suku Tolaki, sebuah etnis yang mendiami bagian tenggara dari Sulawesi Tenggara.

Masyarakat Tolaki menggunakan Tari Malulo untuk menghibur dewa Sanggolemboe serta instrumen pengobatan warga. Menurut kepercayaan yang dianut suku Tolaki, penyakit disebabkan oleh kesalahan/kelalaian (si penderitanya), yang membuat Sangia murka dan memberinya sakit. Jika si penderita ingin sembuh, maka cukup dengan tari lulo yang dipimpin dukun.

Masyarakat Tolaki percaya bahwa Tari Malulo inilah yang menjadi komunikasi ritual dengan para dewa. Tujuannya untuk menghibur para dewa agar mereka tidak murka dan masyarakat terhindar dari bala bencana.

- Advertisement -

Versi lain mengisahkan jika Tari Malulo bermula dari suku Tolaki kuno, yang berkumpul di lahan baru sebagai tempat cocok tanam. Di sana, mereka memohon pada penguasa alam agar tanamannya aman, tidak dirusak oleh hama dan penyakit. Diiringi musik gong, mereka berbaris membentuk lingkaran, bergandengan tangan dan menginjakkan kakinya.

Diceritakan dalam buku “Sejarah dan Budaya Masyarakat Tolaki di Konawe” bahwa dahulu mereka memisahkan bibit dengan tangkainya, sambil berpegangan pada tiang lumbung. Tetapi, karena pekerja (petani) banyak, tiang lumbung tidak cukup untuk berpegangan. Sehingga saling bergandengan tangan, seperti dalam Tari Malulo.

Prinsip dasar Tari Malulo adalah gerakan melingkar, gerak tangan dan kaki. Tari Malulo dilakukan dengan 3 gerakan inti. Yaitu Moese (gerakan tangan ke atas-bawah); Molakoako (gerak ke kanan-kiri); serta Nilulo-lulo (gerakan kaki menginjak-injak).

- Advertisement -

Tari Lulo menghadirkan gerakan-gerakan yang halus dan mengalir, mencerminkan kelembutan dan harmoni yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Tolaki. Para penari membawakan tarian ini dengan penuh penghayatan, menciptakan suasana magis yang memikat para penonton.

Baca Juga :  Makna Filosofi dan Isi Walasuji, Simbol Komunikasi Pengantin Pria di Pernikahan Adat Bugis

Pada zaman dahulu, tari molulo hanya digunakan pada upacara-upacara adat seperti : pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi alat musing gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambal membentuk sebuah lingkaran.

Gong yang digunakan biasanya terdiri dari 2 macam yang berbeda ukuran dan jenis suara. Seiring perkembangan zaman, gong telah digantikan dengan alat usik modern yaitu “electon”.

- Advertisement -

Saat ini, Tari Malulo banyak ditampilkan di berbagai event, tak terkecuali pada promosi pariwisata oleh pemerintah. Tari Malulo menyatukan berbagai gender, status sosial, agama, ras dan perbedaan lainnya, dengan ceria bergandengan tangan dan bergerak mengikuti irama musik.

Filosofi tarian lulo adalah persahabatan, yang biasa ditujukan kepada muda-mudi Suku Tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali silaturahmi. Tarian ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan saat bergandengan tangan, untuk pria posisi telapak tangan di bawah menopang tangan wanita. Posisi tangan ini merupakan simbolisasi dari kedudukan, peran, etika pria dan wanita dalam kehidupan.

Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam kehidupannya.

Seperti filosisfo masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah “samaturu, medula ronga mepokoaso” yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu Bersatu, bekerja sama, saling tolong-menolong dan bantu-membantu.

- Advertisement -