Sego Cawuk, Sepiring Tradisi dari Ujung Timur Jawa

Pada zaman dahulu, suku Using makan tanpa menggunakan alat seperti sendok atau garpu, mereka makan dengan cara ‘dicawuk’, atau langsung dengan tangan kosong. Maka dari itu, makanan ini dinamakan sego cawuk.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Menyantap sepiring sego cawuk bukan hanya soal mengisi perut. Ia adalah pengalaman budaya, sebuah perjalanan rasa yang membawa kita menyusuri akar tradisi masyarakat Using, suku asli Banyuwangi. Makanan ini adalah contoh nyata bagaimana cita rasa lokal bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini—memadukan kesederhanaan dengan kekayaan rasa yang khas.

Sego cawuk, dalam penyajiannya, memang tampak sederhana. Nasi putih hangat disiram dengan kuah pindang yang gurih dan sedikit manis, lalu dipadu dengan campuran parutan kelapa muda yang telah dibumbui dan ditaburi ikan teri kecil yang renyah.

Di sampingnya, hadir lauk tambahan seperti pepes ikan laut, telur rebus atau ceplok, tahu goreng, dan kadang juga ayam bumbu pedas. Namun di balik tampilannya yang bersahaja, tersimpan filosofi kehidupan masyarakat agraris dan maritim yang sangat lekat dengan alam.

- Advertisement -

Nama sego cawuk sendiri berasal dari cara makan tradisional masyarakat Using yang tidak menggunakan sendok atau garpu. Dalam bahasa Using, kata cawuk berarti menyuap makanan langsung dengan tangan.

Kebiasaan makan ini mencerminkan nilai-nilai keakraban, kesederhanaan, dan kedekatan antara manusia dengan makanan yang dikonsumsi—tanpa sekat, tanpa perantara. Segalanya dijalani dengan tangan, dengan rasa, dan dengan hati.

Hidangan ini bukanlah sajian yang hanya hadir di meja makan pribadi. Dalam berbagai kesempatan seperti selametan, ritual adat, hingga acara keluarga besar, sego cawuk sering disajikan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

- Advertisement -

Kuah pindang yang menjadi ciri khasnya dipercaya sebagai bentuk adaptasi dari hasil laut yang melimpah di wilayah pesisir selatan Banyuwangi. Sementara parutan kelapa, teri, dan sambal menunjukkan kekayaan hasil bumi yang dikemas dalam harmoni rasa.

Sego cawuk juga mengajarkan satu hal penting: bahwa kearifan lokal tidak selalu tampak mencolok. Terkadang, ia hadir dalam bentuk sepiring makanan rumahan, yang dengan lembut namun pasti mengikatkan kita pada identitas dan sejarah sebuah tempat.

Baca Juga :  Mie Aceh, Kuliner Lezat Perpaduan Budaya Asing

Dalam setiap suapan sego cawuk, ada jejak masa lalu yang bertahan hidup di tengah arus modernitas, menjadikannya tidak hanya makanan, tapi juga pernyataan budaya.

- Advertisement -

Kini, sego cawuk bisa dengan mudah ditemukan di berbagai warung tradisional hingga restoran modern di Banyuwangi. Namun demikian, menyantapnya di tempat asalnya, ditemani obrolan hangat dan aroma laut yang lembut dari kejauhan, akan memberikan sensasi yang tak tergantikan. Karena sego cawuk bukan sekadar soal rasa—ia adalah tentang rumah, tentang sejarah, dan tentang cara orang Banyuwangi menghargai hidup.