Perjanjian Bongaya, Ketika Gowa Runtuh dan Arung Palakka Bangkit

Sultan Hasanuddin sudah tiada. Namun keberaniannya tetap berdiri kukuh, mengakar dalam narasi rakyat Makassar, selalu kembali ketika sejarah membutuhkan teladannya.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Perang Makassar

Serangan terhadap Gowa berlangsung bertahap namun mematikan. Taro, Panju, Bantaeng, dan Jeneponto menjadi korban pertama. Jeneponto—lumbung pangan Gowa—dibumihanguskan. Perlahan tapi pasti, Gowa dikepung, ditarik hingga ke titik paling rapuhnya.

Ketika pasukan VOC mulai melemah akibat penyakit dan kekurangan logistik, Sultan Hasanuddin justru menunjukkan kegigihan yang membuatnya dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”. Meriam-meriam Gowa berhasil mendorong mundur musuh untuk sementara.

Tetapi VOC tak berhenti. Speelman meminta bantuan tambahan dari Maluku. Serangan besar berikutnya diarahkan ke Somba Opu lewat tiga jalur: utara oleh Ternate dan Soppeng, selatan oleh Arung Palakka, dan barat oleh Speelman.

- Advertisement -

Pengepungan itu akhirnya menembus salah satu benteng terpenting Gowa, Benteng Barombong, pada 23 Oktober 1667. Saat itu, Sultan Hasanuddin menyadari bahwa jika perang dibiarkan berlarut, korban di pihak rakyat Gowa hanya akan bertambah.

Di titik itulah ketika VOC mengajukan “damai”, pilihan itu bukan lagi soal kalah atau menang, tetapi menimbang harga kemanusiaan.

Perjanjian Bongaya

Pada 13 November 1667, negosiasi dimulai. Namun posisi Gowa sudah terhimpit. VOC menuntut banyak hal: pengurangan wilayah kekuasaan, penyerahan kendali perdagangan rempah-rempah, izin berlayar yang dibatasi, ganti rugi perang, hingga penyerahan Benteng Ujung Pandang—yang kemudian akan dikenal sebagai Fort Rotterdam.

- Advertisement -

Perundingan berlangsung empat hari, penuh dinamika, tarik ulur, bahkan pengkhianatan dari sebagian bangsawan Gowa sendiri. Speelman nyaris kehilangan kesabaran sebelum menjatuhkan ultimatum terakhir: perjanjian harus selesai pada 18 November 1667.

Sultan Hasanuddin hadir dan menandatangani sebuah lembaran berisi 30 pasal yang secara resmi menjerat Gowa ke bawah kendali VOC. Inilah momen yang membuat Gowa runtuh—bukan melalui deru meriam, tetapi suara pena yang menggores kertas.

Baca Juga :  Museum Pasir Angin, Jejak Megalitik di Perbukitan Bogor

Pada 24 Juni 1669, jatuhnya Benteng Somba Opu menandai berakhirnya Perang Makassar secara resmi. Sultan Hasanuddin menyerahkan kekuasaannya kepada Sultan Amir Hamzah sebelum wafat pada 12 Juni 1670.

- Advertisement -

Warisan Sang Ayam Jantan dari Timur

Perjanjian Bongaya menutup satu babak penting dalam sejarah Sulawesi dan membuka era monopoli VOC di Indonesia Timur. Namun kejatuhan Gowa tidak pernah menghapus figur Sultan Hasanuddin dari memori kolektif rakyat Sulawesi. Ia tetap dikenang sebagai raja yang bertarung sampai batas terakhir, simbol perlawanan terhadap penjajahan, dan penjaga marwah Gowa di tengah badai kolonialisme.

Ketika kita menengok kembali ke masa itu—ke bala tentara Bone yang kembali dengan senjata asing, ke meriam yang menghujani Somba Opu, ke pena Speelman yang menaklukkan satu kerajaan maritim terbesar—kita tidak hanya membaca sejarah. Kita sedang menyusun ulang potongan identitas Sulawesi: identitas yang dilahirkan dari konflik, solidaritas, ambisi, dan pengkhianatan.

Di bawah bayang-bayang Bongaya, kisah itu tetap hidup. Tidak hanya sebagai lembaran masa lalu, tetapi sebagai cermin perjalanan panjang sebuah bangsa yang belajar bahwa strategi Divide et Impera bukan sekadar taktik kolonial, melainkan luka yang bisa membelah saudara sedarah.