Di tepian Sungai Wuno, Kecamatan Sigi Biromaru, Sulawesi Tengah, suara gendang mengalun ketika kemarau mulai memperlihatkan wajahnya. Di sekitar sungai, warga dari lima desa berkumpul membawa perlengkapan adat. Para pemangku adat mengambil peran, doa dipanjatkan, dan sebuah ritual warisan leluhur kembali dijalankan.
Mereka menyebutnya Morra Keke. Bagi masyarakat setempat, ritual ini merupakan ikhtiar untuk memohon hujan kepada Sang Pencipta ketika kemarau mulai membuat sejumlah lahan pertanian kehilangan sumber air. Namun, Morra Keke tidak berhenti pada permohonan turunnya hujan.
Di dalamnya terdapat cara masyarakat membaca hubungan antara manusia, sungai, alam, dan kehidupan sosial mereka.
Ritual tersebut dilaksanakan pada 4 Juni 2026 dan diikuti warga dari Desa Watunonju, Sidera, Oloboju, Bora, dan Solove. Lima desa itu berkumpul di satu tempat yang memiliki arti penting bagi kehidupan mereka: Sungai Wuno.
Sungai yang Menjadi Nadi Kehidupan
Pemilihan Sungai Wuno sebagai lokasi ritual bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat di sekitarnya, sungai tersebut merupakan salah satu sumber air penting. Airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu mengairi lahan pertanian.
Ketika musim kemarau datang, ketergantungan terhadap sumber air menjadi semakin terasa. Lahan pertanian yang biasanya produktif dapat mengalami kekeringan apabila pasokan air berkurang.
Karena itu, sungai bukan hanya bagian dari bentang alam. Ia merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Di tempat inilah Morra Keke dilaksanakan, memperlihatkan bagaimana ruang alam dapat sekaligus menjadi ruang spiritual dan sosial.
Masyarakat datang bukan hanya untuk melakukan ritual, tetapi juga untuk menyatukan harapan.
Arti Morra Keke
Nama ritual tersebut memiliki makna yang berkaitan langsung dengan prosesi yang dilakukan. Menurut penjelasan Ketua Lembaga Adat Desa Watunonju, Aswan Meni, Morra berarti darah, sedangkan Keke berarti sungai.
Darah hewan kemudian dialirkan ke sungai sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, prosesi tersebut tidak hanya berkaitan dengan permohonan hujan. Ada pula keyakinan mengenai hubungan ritual dengan perlindungan kampung dari ancaman banjir.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat tradisional memaknai sungai dalam dua sisi sekaligus. Sungai merupakan sumber kehidupan ketika air dibutuhkan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan alam yang harus diwaspadai ketika debitnya meningkat.
Dengan demikian, Morra Keke menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan harapan terhadap dua kondisi alam yang berlawanan: kekeringan dan banjir.
Darah Hewan dalam Prosesi Adat
Rangkaian Morra Keke dilakukan melalui sejumlah tahapan yang dipimpin oleh para pemangku adat. Salah satu bagian yang paling khas adalah penyembelihan hewan ternak. Dalam ritual tersebut, masyarakat menyiapkan beberapa jenis hewan, antara lain ayam, kambing, domba, babi, dan anjing.
Darah dari hewan-hewan tersebut kemudian dialirkan ke Sungai Wuno.
Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, tindakan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan adat yang telah diwariskan oleh leluhur. Maknanya tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan ritual, doa, serta hubungan spiritual masyarakat dengan alam dan Sang Pencipta.
Karena itu, melihat Morra Keke semata-mata sebagai prosesi penyembelihan hewan akan menghilangkan konteks budaya yang lebih luas. Di balik tindakan tersebut terdapat sistem kepercayaan yang telah berkembang dan dipelihara masyarakat selama beberapa generasi.


