Ada pemandangan berbeda di Gedung Aula MTS An-Nahl, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo pada Ahad (12/7/2026). Sejak pagi, aula sekolah ini mendadak ramai oleh kedatangan puluhan anak-anak didampingi orang tua mereka. Rupanya, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Nagekeo tengah menggelar aksi khitanan massal untuk memperingati Milad ke-109 Aisyiyah.
Bekerja sama dengan Klinik Pratama Muhammadiyah Ende, aksi sosial ini sukses merangkul 48 anak usia 5 hingga 15 tahun. Menariknya, pesertanya tidak hanya datang dari sekitar Nangaroro saja, tapi ada juga yang jauh-jauh datang dari luar daerah. Dari total 48 anak tersebut, tim medis melayani tindakan khitan untuk 32 anak laki-laki dan 16 anak perempuan dengan standar pelayanan yang aman, ramah, dan ideal untuk keluarga.
Milad ke-109 Aisyiyah Nagekeo Ringankan Beban Masyarakat
Menurut laporan dari panitia, acara ini sengaja digelar untuk memberikan dampak sosial nyata bagi warga yang membutuhkan. Selain melaksanakan syariat agama, khitanan ini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi anak sejak dini sekaligus membantu meringankan keluarga yang kurang mampu.
Sebagai tuan rumah, Ketua Yayasan MTS An-Nahl, Bapak Asrul Sani, mengaku sangat senang sekolahnya dipilih untuk melaksanakan kegiatan ini.

“Kami selaku tuan rumah tentu bersyukur dan bangga karena aula MTS An-Nahl dipilih jadi tempat pelaksanaannya. Selain fokus di dunia pendidikan formal, kami selalu membuka pintu lebar-lebar untuk urusan sosial dan keagamaan. Momen hari ini jadi bukti kalau keharmonisan itu sesuatu yang sangat bermakna dan harus kita ciptakan bersama demi masyarakat,” kata Bapak Asrul Sani.
Visi “Perempuan Berkemajuan” yang Nyata
Eksistensi Aisyiyah yang sudah mencapai usia 109 tahun secara nasional yang disampaikan oleh Ketua Aisyiyah Kabupaten Nagekeo, Ibu Istiana, S.Pd., Baginya, organisasi otonom perempuan di bawah Muhammadiyah ini punya tanggung jawab moral untuk selalu hadir saat masyarakat membutuhkan bantuan.

“Perempuan berkemajuan adalah mereka yang memiliki alam pikiran dan kondisi kehidupan yang maju di segala aspek, tanpa mengalami hambatan maupun diskriminasi, baik secara struktural maupun secara kultural,” jelas Ibu Istiana.
Ia menambahkan, lewat pergerakan Majelis Kesehatan dan Majelis Kesejahteraan Sosial, Aisyiyah ingin membuktikan bahwa mereka selalu adaptif dan tanggap melihat kebutuhan riil warga di daerah.
Di lapangan, proses khitanan sendiri berjalan sangat tertib di tangan para tenaga kesehatan yang berpengalaman. Anak-anak melewati prosedur medis yang rapi: mulai dari daftar ulang, dicek kesehatannya (screening awal), tindakan khitan, pembagian obat gratis, sampai sesi edukasi untuk orang tua tentang cara merawat luka khitan di rumah.
Menariknya, panitia sempat bercerita kalau mereka menghadapi tantangan dinamika kekurangan anggaran selama persiapan. Namun, berkat modal gotong royong dari kas internal organisasi, sumbangan donatur, dan kontribusi sukarela dari para orang tua, semua kebutuhan medis, obat, konsumsi, hingga jasa klinis tetap bisa terpenuhi dengan aman dan sukses.

Komitmen Muhammadiyah: Berlaku untuk Semua Golongan
Acara ini dibuka secara resmi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiya Kabupaten Nagekeo yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Nagekeo, Bapak Muhammad Amin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan manfaat khitan secara lengkap. Dari sisi agama, khitan memudahkan proses pembersihan fisik agar ibadah menjadi sah. Sedangkan dari kacamata medis, khitan terbukti ampuh menjaga kebersihan dan mencegah penularan berbagai penyakit berbahaya.
Di hadapan para tamu, Bapak Muhammad Amin juga membawa pesan kuat tentang komitmen ideologis Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam menjaga nilai inklusivitas (keterbukaan) di Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa ratusan rumah sakit, klinik, dan sekolah yang dibangun Muhammadiyah semuanya ditujukan untuk seluruh warga negara tanpa memandang latar belakangnya.
“Muhammadiyah selalu memberikan peluang besar kepada masyarakat luas, khususnya yang kurang mampu, untuk bisa sekolah dari tingkat dasar sampai kuliah lewat jalur beasiswa. Pelayanan kami diberikan secara inklusif kepada semua masyarakat tanpa memilih-milih, baik warga yang beragama Islam maupun yang berada di luar Islam,” tegas Bapak Muhammad Amin.
Beliau bahkan mencontohkan kondisi riil di beberapa daerah Indonesia, di mana ada kampus Muhammadiyah yang jumlah mahasiswanya justru 90 persen adalah penganut Katolik atau Protestan. “Muhammadiyah tidak pernah memilih atau membeda-bedakan dalam pelayanan kemanusiaan,” lanjutnya menutup pembicaraan.

Acara yang berlangsung hangat ini juga dihadiri oleh imam masjid se-Kecamatan Nangaroro, serta para tokoh masyarakat setempat. Sesi seremonial ditutup dengan penyerahan buku iqra’ secara simbolis kepada perwakilan KUA Kec Nangaroro untuk dibagikan kepada TPI-TPI se kec. Nangaroro.


