Kuburan Batu Kayan Mentarang, Jejak Leluhur Dayak di Tengah Hutan

Di tengah hutan Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara, tersimpan kuburan batu kuno yang menjadi jejak tradisi pemakaman leluhur masyarakat Dayak dan sejarah peradaban di Sungai Bahau.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Jauh di balik rimbunnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, tersimpan jejak kehidupan manusia dari masa lampau. Di sepanjang aliran Sungai Bahau, batu-batu tua menjadi saksi dari tradisi pemakaman leluhur masyarakat Dayak yang diwariskan lintas generasi.

Salah satu situs tersebut berada di wilayah kerja SPTN Wilayah II Long Alango, tepatnya di seberang Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu. Untuk mencapainya, perjalanan menggunakan perahu ketinting selama sekitar satu jam dari Long Alango. Sungai menjadi jalur utama menuju kawasan tersebut, melewati hutan yang masih lebat, jeram berarus deras, dan habitat berbagai burung liar.

Setelah perjalanan berakhir, suasana berubah menjadi lebih sunyi. Di antara pepohonan ditemukan sekitar lima hingga enam struktur kuburan batu dengan ketinggian lebih dari satu meter. Bentuknya menyerupai wadah batu besar yang ditutup dan dikelilingi bebatuan tebal.

- Advertisement -

Di dalamnya tersimpan tulang-belulang manusia. Bagi masyarakat setempat, struktur tersebut bukan sekadar susunan batu tua. Ia merupakan bagian dari sistem pemakaman leluhur yang memiliki tata cara tersendiri.

Tradisi Pemakaman yang Berlangsung Bertahap

Menurut Kepala Adat Desa Long Berini, Irang Lawai, keberadaan makam kuno itu telah diketahui masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Sekitar 1933, warga menemukan situs tersebut ketika membuka kawasan untuk membangun rumah dan pondok ladang.

Tradisi pemakaman pada masa lalu juga berbeda dengan praktik sekarang. Kepala Desa Long Berini, Sili, menjelaskan bahwa jenazah terlebih dahulu diletakkan di atas wadah kayu hingga mengalami proses pembusukan. Setelah itu, tulang-belulang diambil, dibersihkan, dan ditempatkan ke dalam kuburan batu melalui ritual tertentu.

- Advertisement -

Menariknya, satu kuburan tidak selalu digunakan untuk satu orang. Dalam beberapa kasus, tulang-belulang dari sejumlah anggota keluarga dapat ditempatkan dalam satu wadah.

Baca Juga :  Kebudayaan Etnis Tionghoa, Sumber Pariwisata Provinsi Riau

Sili mengisahkan pernah menemukan sekitar 11 tengkorak dengan ukuran berbeda dalam satu kuburan batu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa makam dapat menjadi tempat peristirahatan bersama bagi anggota keluarga atau kelompok masyarakat.

Masyarakat setempat meyakini situs tersebut berkaitan dengan Dayak Ngorek, yang disebut sebagai salah satu kelompok awal yang mendiami wilayah tersebut. Ketika kemudian masyarakat Dayak Kenyah datang dan menetap, sejumlah artefak seperti tempayan keramik kuno dan gong turut ditemukan di sekitar makam.

- Advertisement -

Benda-benda itu dipercaya ditempatkan sebagai warisan atau bekal bagi keluarga yang telah meninggal.

Warisan yang Terancam Terlupakan

Kuburan batu serupa ternyata tidak hanya ditemukan di satu lokasi. Masyarakat menyebut keberadaannya tersebar di sejumlah tempat, termasuk Long Pulung, Kuala Sungai Berini, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan di dalam hutan.

Bentuknya pun beragam. Ada yang menyerupai mangkuk batu, sementara lainnya berbentuk kotak dan ditopang oleh tiang-tiang batu.

Keragaman tersebut memperlihatkan betapa panjang dan kompleksnya sejarah pemakaman masyarakat di kawasan pedalaman Kalimantan. Namun, warisan ini kini menghadapi persoalan lain: kurangnya perawatan. Sebagian makam mulai tertutup tanah dan dedaunan, sementara lumut tumbuh tebal di permukaan batu.

Bagi masyarakat desa dan lembaga adat, kondisi tersebut menjadi perhatian. Mereka berharap situs dapat ditata dan dilestarikan tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Jika dikelola secara hati-hati, kuburan batu tersebut bukan hanya berpotensi menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga ruang untuk memahami sejarah masyarakat Dayak dan hubungan mereka dengan alam.

Di tengah hutan Kayan Mentarang, batu-batu itu masih menyimpan cerita. Mereka berbicara tentang kematian, keluarga, leluhur, dan cara manusia masa lalu menjaga hubungan dengan orang-orang yang telah pergi. Kini, tantangannya adalah memastikan cerita tersebut tidak ikut terkubur bersama batu-batu tua yang menjaganya.

Baca Juga :  Terbuat dari Putih Telur, Masjid Tua Palopo Berusia Berabad-abad
- Advertisement -
-->