Lumpur masih dingin, aroma jerami basah bercampur asap dapur warga yang mengepul perlahan. Di sudut desa, bunyi lonceng terdengar samar ritmis, berat, dan berulang. Bukan dari leher kerbau sungguhan, melainkan dari tubuh manusia yang hari itu meninggalkan identitasnya sebagai petani, warga, atau kepala keluarga. Mereka bersiap menjadi kebo.
Di Banyuwangi, tepatnya di Desa Alasmalang dan Desa Aliyan, ritual adat Kebo-Keboan kembali digelar. Tradisi yang telah hidup sejak abad ke-18 ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan doa kolektif masyarakat agraris doa yang disampaikan melalui tubuh, tanah, dan simbol kerbau.
Kerbau dan Ingatan tentang Tanah
Dalam bahasa Jawa, kebo berarti kerbau. Hewan yang bagi masyarakat agraris bukan hanya alat kerja, tetapi sahabat setia di sawah. Ia membajak tanah, menyiapkan lahan tanam, dan ikut menentukan keberhasilan panen. Kerbau adalah lambang ketekunan, kesabaran, dan kekuatan yang senyap nilai-nilai yang diwarisi petani dari generasi ke generasi.
Pada hari pelaksanaan Kebo-Keboan, sejumlah laki-laki desa didandani menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri jelaga hitam, wajah menghitam tanpa ekspresi personal, tanduk tiruan terpasang di kepala, dan lonceng kecil klutuk menggantung di pinggang. Dengan setiap langkah, lonceng itu berdenting, seolah menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang sawah, lumpur, dan kerja keras.
Di titik ini, manusia tidak sedang meniru kerbau. Mereka sedang merendahkan diri, menempatkan manusia sejajar dengan alam, dan mengakui ketergantungan hidup pada tanah.
Pagebluk dan Jalan Spiritual Leluhur
Sejarah Kebo-Keboan tidak lahir dari masa damai. Cerita tutur masyarakat menyebutkan, tradisi ini bermula dari masa pagebluk wabah penyakit dan serangan hama yang membuat tanaman padi rusak, panen gagal, dan warga jatuh sakit. Desa berada dalam ketakutan, sementara upaya lahiriah tak kunjung membuahkan hasil.
Dalam kondisi itulah seorang sesepuh desa, Buyut Karti, melakukan tirakat. Ia berpuasa, menyepi, dan mencari petunjuk. Dari laku spiritual itulah muncul pesan yang tak lazim: manusia harus berperilaku seperti kerbau, menyatu dengan tanah, dan memohon keselamatan melalui simbol agraris yang paling dekat dengan kehidupan mereka.
Ritual pertama pun digelar. Konon, setelah itu wabah mereda, tanaman kembali tumbuh, dan desa perlahan pulih. Sejak saat itulah Kebo-Keboan dipercaya sebagai sarana menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.
Hari Ketika Desa Berubah Wajah
Kebo-Keboan dilaksanakan setahun sekali, biasanya pada bulan Suro atau Muharam bulan yang diyakini memiliki kekuatan spiritual dalam penanggalan Jawa. Beberapa hari sebelum ritual, desa mulai berbenah. Gapura dari janur berdiri di sepanjang jalan. Hasil bumi digantung dan disusun rapi. Dapur-dapur warga bekerja tanpa henti.
Ritual diawali dengan kenduri desa. Warga berkumpul, berdoa, dan makan bersama. Tidak ada jarak antara tua dan muda, antara tokoh adat dan petani biasa. Semua hadir dalam satu niat: memohon keselamatan dan kesuburan.
Setelah itu, prosesi ider bumi dimulai. Para “manusia kerbau” berjalan mengelilingi desa, menyusuri empat penjuru mata angin. Arak-arakan ini bukan sekadar pawai, melainkan simbol perlindungan seolah desa dipagari doa dari segala arah.
Lumpur dan Keyakinan
Puncak ritual terjadi di sawah. Di sanalah tubuh-tubuh hitam itu mulai bergerak liar. Mereka berguling di lumpur, menghentakkan kaki, menunduk, dan membajak tanah tiruan. Gerakannya kasar, naluriah, dan di luar pola pertunjukan.
Sebagian warga percaya, pada fase ini para peserta berada dalam kondisi spiritual tertentuseperti kerasukan semangat kerbau atau leluhur. Tidak ada naskah, tidak ada aba-aba. Semua mengalir mengikuti irama ritual.
Ritual ditutup dengan penanaman benih padi. Benih-benih itu menjadi simbol harapan. Warga sering berebut untuk mendapatkannya, percaya bahwa benih dari Kebo-Keboan membawa berkah panen dan keselamatan.
Antara Doa dan Sorotan Wisata
Dalam beberapa dekade terakhir, Kebo-Keboan menjadi bagian dari agenda Banyuwangi Festival. Wisatawan datang, kamera merekam, dan tradisi ini dikenal hingga mancanegara. Namun bagi masyarakat setempat, ada batas yang tak boleh dilampaui.
Tidak semua prosesi boleh difoto. Tidak semua bagian boleh disentuh. Sakralitas tetap dijaga agar ritual tidak kehilangan ruhnya.
Warisan yang Terus Hidup
Kebo-Keboan bukan warisan yang disimpan di museum. Ia hidup karena dijalankan. Ia bertahan karena dipercaya. Di tengah modernisasi pertanian dan perubahan zaman, ritual ini menjadi penanda identitas bahwa manusia tetap bergantung pada tanah dan keseimbangan alam.
Ketika jelaga dibersihkan dan lonceng dilepas, ritual memang usai. Namun maknanya tinggal di sawah, di benih padi, dan di ingatan kolektif masyarakat yang terus menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa.


