Di Ibu Kota Kabupaten Morowali, suasana Ramadan memiliki irama tersendiri. Ketika dini hari mulai menyelimuti Kota Bungku, denting gong dan tabuhan gendang memecah sunyi. Suara itu berasal dari Dengo-dengo—bangunan bambu menjulang yang menjadi penanda waktu sahur bagi masyarakat setempat.
Tradisi ini telah hidup sejak awal masuknya Islam ke wilayah Bungku pada abad ke-17. Dengo-dengo, yang secara harfiah berarti “tempat beristirahat”, bukan sekadar bangunan sementara. Ia adalah simbol kebersamaan, dibangun menjelang 1 Ramadan melalui gotong royong warga di setiap rukun tetangga.
Strukturnya sederhana namun mencolok. Tiang-tiang bambu menyangga lantai papan berukuran 3×3 meter, beratapkan daun sagu, dengan tinggi hampir 15 meter. Di atasnya, tergantung gong, gendang, dan rebana—alat-alat musik tradisional yang akan ditabuh sekitar pukul 01.30 dini hari untuk membangunkan warga sahur dan salat Subuh. Sekitar delapan orang penjaga bergiliran bertugas setiap malam.
Menariknya, hampir setiap sudut jalan di Bungku memiliki Dengo-dengo. Bangunan-bangunan ini berdiri megah, sebagian dihiasi lampu warna-warni, terutama yang berada di sekitar masjid. Dari kejauhan, cahaya lampunya tampak semarak, menambah nuansa khas Ramadan di kota pesisir ini.
Namun fungsi Dengo-dengo tak berhenti saat fajar tiba. Pada sore hari, tempat ini menjadi ruang berkumpul warga menanti waktu berbuka. Usai salat Tarawih pun, Dengo-dengo kerap dipadati anak muda dan orang tua yang berbincang, merencanakan giliran jaga, sekaligus mempererat silaturahmi.
Berbeda dengan tradisi konvoi kendaraan yang marak di sejumlah daerah lain, masyarakat Bungku memilih merayakan Ramadan dengan cara yang lebih sederhana dan kolektif—berkumpul, berbagi tugas, dan menjaga warisan leluhur.
Meski dibangun dengan biaya relatif kecil dan akan dibongkar setelah Ramadan usai, makna Dengo-dengo jauh lebih besar dari wujud fisiknya. Ia adalah penanda identitas, simbol solidaritas, dan denyut kehidupan religi yang khas di Morowali.
Bagi warga Kota Bungku, Dengo-dengo bukan sekadar menara bambu. Ia adalah suara kebersamaan yang menggema setiap Ramadan—tradisi unik yang mereka yakini sebagai satu-satunya di Sulawesi Tengah.


