Dalam salah satu celah tersembunyi dari gugus pegunungan Sulawesi Barat, terdapat sebuah perkampungan yang seakan bukan milik dunia ini. Kampung itu bernama Ballapeu’—yang dalam dialek lokal berarti “tempat yang dibakar”, merujuk pada transformasi wilayah hutan lebat menjadi permukiman leluhur lewat tradisi peladangan berpindah.
Namun bagi penjelajah dimensi dan pelacak budaya seperti kami, Ballapeu’ bukan sekadar kampung… ia adalah artefak hidup dari peradaban di atas awan.
Dari Mamasa Kota, kami menelusuri Jalan Poros Mamasa–Polewali menuju titik Pena’, sekitar 12 kilometer. Di titik itu, kami menyeberangi jembatan yang membelah sungai Mamasa—sungai yang tampak seperti arteri biru dalam tubuh lembah hijau.

Selanjutnya perjalanan mendaki menuju orbit 1.600 meter di atas permukaan laut, sejauh 7 kilometer. Total jarak dari pusat kota: 19 kilometer. Kendaraan dua dan empat roda bisa mencapai batas dimensi ini, tapi untuk benar-benar merasakan Ballapeu’, hanya hati yang siap untuk ditarik oleh energi kuno yang bisa melewatinya.
Ballapeu’ terbentang sepanjang 1,5 kilometer—memeluk punggung bukit seperti ular naga langit. Ratusan rumah adat banua longa saling bersambung atapnya, membentuk formasi layaknya sirip-sirip pesawat luar angkasa yang tersusun harmonis. Dari ketinggian, mereka tampak seperti lambang suku yang diukir pada kulit bumi.
Sekitar 800 meter ke utara dari kampung, menjulang bukit Mussa’, medan latihan bagi para remaja dan pejalan waktu muda. Di sinilah, kita bisa menyaksikan panorama lembah Mamasa yang dilingkari oleh deretan pegunungan berkabut. Hutan-hutannya masih hijau, seolah dilindungi oleh pelindung plasma tak kasatmata.
Buntu Liarra’: Negeri di Atas Awan

Hanya 2 kilometer ke barat dari Ballapeu’, terdapat Buntu Liarra’—puncak tempat langit menyentuh bumi. Pada subuh-subuh tertentu, ketika alam membuka celah antar lapisan dimensi, awan turun menyelimuti dataran rendah di bawahnya.
Anak-anak muda, pelancong, bahkan mereka yang mencari jawaban dari hidup, mendirikan tenda di sini. Mereka tak menunggu matahari, tapi momen ketika batas antara dunia terlihat dan tak terlihat mengabur. Itulah momen ketika Buntu Liarra’ hidup.
Para pelancong dapat menuruni bukit ke arah Pena’ melalui jalur kuno yang melewati kampung Pidara, Buntu Balla, dan Bulo. Jaraknya sekitar 7 kilometer—namun bagi yang memahami bahasa alam, ini adalah perjalanan lintas cerita, bukan sekadar angka.