Bakcang Pontianak, Jejak Tradisi Tionghoa yang Hidup di Tepian Kapuas

Bakcang Pontianak bukan sekadar kuliner Tionghoa. Ia merupakan salah satu contoh bagaimana makanan dapat menjadi jembatan antara sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat di sebuah kota yang tumbuh dari pertemuan berbagai kebudayaan.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Pontianak dikenal sebagai kota yang mempertemukan beragam budaya dalam kehidupan sehari-hari. Jejak pertemuan itu dapat ditemukan di berbagai sudut kota, termasuk melalui makanan. Salah satu yang paling menarik tentu bakcang, hidangan berbahan beras ketan yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa diPontianak.

Di balik bentuknya yang khas dengan balutan daun bambu, bakcang menyimpan perjalanan budaya yang panjang. Makanan ini bukan hanya soal beras ketan dangan isian berbumbu, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, legenda, penghormatan kepada leluhur, serta perayaan Peh Cun yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.

Ketan, Isian, dan Balutan Daun Bambu

Bakcang merupakan makanan tradisional masyarakat Tionghoa yang dikenal sebagai kue asin dengan beragam isian. Hidangan ini dibuat dari beras ketan atau beras biasa yang terlebih dahulu diaron, kemudian diberi isian, dibungkus menggunakan daun bambu, dan direbus selama beberapa jam.

- Advertisement -

Dalam bahasa Hokkian, istilah bakcang berasal dari kata bak yang berarti daging dan cang yang berarti dumpling ketan. Bentuknya dapat berbeda-beda, mulai dari lonjong menyerupai lontong hingga bentuk limas atau piramida.

Pontianak memiliki karakter bakcang tersendiri. Bakcang yang berkembang di kota ini umumnya menggunakan kacang tanah dan daging cincang sebagai isian. Komposisinya dapat berbeda dari daerah lain. Di wilayah Sunda, misalnya, bakcang lebih banyak ditemukan dengan isian ayam.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa bakcang tidak memiliki satu bentuk yang sepenuhnya seragam. Ketika menyebar ke berbagai wilayah, hidangan ini beradaptasi dengan bahan pangan, selera, dan tradisi masyarakat setempat.

- Advertisement -

Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelitian. Beras harus disiapkan dengan tepat, isian diracik, kemudian seluruh bahan dibungkus menggunakan daun bambu sebelum direbus hingga matang. Tahapan membungkusnya membutuhkan keterampilan agar bentuk bakcang tetap kokoh dan isian tidak keluar ketika dimasak.

Baca Juga :  Gulai Siput Sedut, Kuliner ala Melayu yang Kaya Akan Manfaat

Legenda Qu Yuan dan Lahirnya Tradisi Bakcang

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh anoigma photography (@anoigma)

Di balik lezatnya bakcang terdapat sejumlah kisah mengenai asal-usulnya. Salah satu legenda yang paling dikenal berkaitan dengan Qu Yuan, seorang pujangga dan pejabat pada masa Tiongkok kuno.

- Advertisement -

Menurut kisah itu, Qu Yuan memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Miluo di Provinsi Hubei setelah melihat kehancuran negaranya. Masyarakat yang bersimpati kepadanya kemudian berusaha menyelamatkan jasad sang pujangga.

Mereka mengadakan perlombaan perahu naga dan melemparkan makanan berbahan beras ketan ke sungai. Makanan tersebut kemudian dikenal sebagai zongzi, yang dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Indonesia salah satunya dikenal sebagai bakcang.

Menurut legenda, makanan itu dilemparkan ke sungai agar ikan dan hewan air lainnya memakan bakcang, bukan tubuh Qu Yuan.

Sejak saat itu, bakcang menjadi bagian dari peringatan untuk mengenang Qu Yuan. Tradisi tersebut kemudian berkembang dan diwariskan selama berabad-abad.

Ada pula legenda lain mengenai asal-usul bakcang. Dalam kisah rakyat Tiongkok kuno, arwah Kut Goan disebut pernah menyampaikan kepada penduduk bahwa beras yang dikirimkan kepadanya telah dirampas naga dan ikan di sungai.

Ia kemudian meminta agar beras dibungkus dengan daun berduri dan diikat menggunakan benang sutra karena bentuk tersebut dipercaya dapat ditakuti oleh naga dan ikan. Dari kisah inilah muncul cerita mengenai penggunaan daun sebagai pembungkus beras atau ketan yang kemudian dibentuk menyerupai limas.

Terlepas dari perbedaan legenda, kedua cerita tersebut memperlihatkan satu hal yang sama: bakcang telah lama ditempatkan dalam hubungan erat antara makanan, penghormatan, dan tradisi.

- Advertisement -

Majalah Dimensi Indonesia:
Edisi Nagekeo

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.

Unduh majalah