Baayun Maulid: Di Antara Ayunan, Salawat, dan Ingatan Panjang Masyarakat Banjar

Baayun Maulid merupakan tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang mempertemukan ritual kelahiran dengan peringatan Maulid Nabi. Tradisi ini menyimpan jejak akulturasi budaya, doa, dan identitas masyarakat Banjar.

Nagekeo yang Tak Banyak Orang Tahu, Temukan di Edisi Spesial Ini!

Temukan kekayaan budaya, adat istiadat, sejarah, wisata, dan kuliner khas Nagekeo melalui Majalah Digital Dimensi Indonesia. Dikemas secara menarik dengan pendekatan ilmiah yang ringan.
Bagikan keindahan Indonesia yang ada disekitarmu di Dimensi Indonesia! Selengkapnya
X

Ayunan tradisional dibuat menggunakan tapih bahalai, kain sarung perempuan berukuran panjang yang kedua ujungnya diikat sehingga membentuk tempat untuk meletakkan anak. Bagian tertentu dapat menggunakan sarigading atau sasirangan, kain yang telah lama menjadi bagian penting dari kebudayaan Banjar.

Ayunan kemudian dihiasi dengan berbagai unsur tumbuhan dan makanan. Janur dari nipah atau enau, daun kelapa, pisang, ketupat, kue cucur, dan kue cincin dapat hadir sebagai bagian dari dekorasi.

Jika diperhatikan, bahan-bahan tersebut berasal dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Alam menyediakan bahan untuk membuat ayunan, sementara pangan yang digunakan dalam prosesi mencerminkan kehidupan masyarakat yang menjalankannya.

- Advertisement -

Dengan demikian, sebuah ayunan dapat menjadi semacam ruang kecil tempat berbagai unsur budaya bertemu.

Ketika Budaya dan Agama Berjalan Bersama

Baayun Maulid memperlihatkan satu proses penting dalam sejarah kebudayaan: akulturasi. Tradisi lokal tidak selalu berhadapan secara langsung dengan agama yang datang kemudian. Dalam kasus masyarakat Banjar, praktik mengayunkan anak tetap hidup, tetapi ditempatkan dalam kerangka keislaman melalui peringatan Maulid Nabi, pembacaan Al-Qur’an, salawat, dan doa.

- Advertisement -

Proses semacam ini membuat Baayun Maulid memiliki dua lapisan yang saling berkelindan.

Lapisan pertama adalah ingatan budaya tentang kelahiran dan pengasuhan anak. Lapisan kedua adalah ekspresi keagamaan yang menghubungkan prosesi dengan kecintaan dan keteladanan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Perpaduan tersebut juga tercermin dalam piduduk, seperangkat bahan yang disiapkan dalam prosesi. Di antaranya terdapat beras, gula merah, dan garam untuk anak laki-laki, sementara untuk anak perempuan dapat ditambahkan minyak goreng.

- Advertisement -

Bahan-bahan tersebut memperlihatkan bagaimana benda sehari-hari memperoleh makna simbolis ketika ditempatkan dalam sebuah ritual. Pada akhirnya, Baayun Maulid bukan sekadar tradisi yang mempertontonkan seorang anak di dalam ayunan. Ia adalah dokumen budaya yang hidup.

Baca Juga :  Ebu Gogo, Spesies Manusia Kuno di Boawae-Flores

Melalui kain, makanan, tumbuhan, suara salawat, dan gerakan mengayun, masyarakat Banjar menyimpan ingatan tentang cara leluhur mereka menyambut kelahiran, merawat harapan, dan membangun hubungan dengan keyakinan yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas mereka.

Ayunan itu mungkin bergerak perlahan. Namun, di dalam gerak yang sederhana tersebut, tersimpan perjalanan budaya yang panjang.

Dari Baayun Anak menuju Baayun Maulid, tradisi ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama. Ia dapat berubah, beradaptasi, dan menemukan makna baru—tanpa harus kehilangan jejak dari masa lalu.

Dan setiap kali ayunan kembali bergerak diiringi salawat, masyarakat Banjar bukan hanya sedang merayakan sebuah peristiwa keagamaan. Mereka juga sedang menghidupkan kembali ingatan tentang siapa mereka, dari mana tradisi itu berasal, dan nilai apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

- Advertisement -