bima
Proses penenuman kain Nggoli
| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |
BUDAYA

Nggoli dan Warisan Nenek Moyang

Jika generasi muda tak mau meneruskan warisan budaya nenek moyangnya, maka sebelum dipanggil Tuhan, saya tawarkan ke negara-negara yang berminat. Dengan demikian generasi selanjutnya dapat menikmati hasil dari tangan dan pemikiran orang-orang jenius seperti mereka (orang asing).

Penulis: Muh. Amin dg Mattiro

 

Bukan hanya budaya Sulawesi yang saya cintai dengan lebih tulus. Ada pergeseran cinta setelah di wilayah lain memperlihatkan keindahan alam dan karya nenek moyang mereka. Pantai, gunung, makanan, hingga adat istiadat yang sangat khas dan rumit.

 

Dengan kerumitan itulah mengapa terjadilah kemunduran daya minat generasi muda terhadap dirinya. Namun, bagi pemikiran orang barat menganggapnya sangat berharga dan kaya. Dengan demikian orang barat mulai mencintai Indonesia dengan sangat berlebihan. Memanfaatkan segala potensi yang ada dengan pola pikir yang brilian sehingga tetap terjaga ekonomi mereka.

 

Pada kesempatan baik di bulan lalu, sekalipun tujuan kami adalah mendaki Rinjani, namun tak ada keberatan jika menyempatkan diri beberapa hari singgah di kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Tak bermaksud menghabiskan uang jajanan kami. Itu adalah rute yang telah kami rancang sejak dari Makassar.

 

bima
Kain temun ini dibuat di rumah-rumah warga.

Makassar-Bima adalah jarak yang jauh. Sekiranya membutuhkan uang yang banyak, waktu dan pemikiran yang harus dibuang. Bukan hanya itu, keberanian dan pengetahuan adalah cara terbaik mempertahankan hidup. Bagi yang malu dan peragu diri tidak semestinya melakukan hal semacam ini. Pergi tanpa guide untuk mendapatkan sensasional yang masuk akal sudah menjadi kebiasaan sejak website ini kami dirikan.

 

Tentu bukan perjalanan yang tanpa rencan. Tiga bulan sebelum berangkat, kami mengumpulkan semua informasi untuk dipelajari. Berbagai sumber kami baca dengan tekun dan teliti. Berawal dari satu titik ke titik lainnya kami beri tanda jarak dan waktunya. Dengan sikap semacam itulah yang selalu memudahkan kami pergi tanpa guide. Tak ada hotel dipemikiran kami, apalagi makan direstauran termahal. Hanya aroma perkampungan pelosok desa yang ingin kami rasakan. Bergaul bersama mereka, mendengarkan cerita mereka dan seterusnya kami tahu apa yang harus kami lakukan untuk mereka.

 

Kunjungan pertama kami adalah Kelurahan Ntobo, Kecamatan Raba, Kota Bima yang dikenal sejak dahulu dengan kerajinan tenunnya yang berkualitas. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Sambolo atau ikat kepala untuk lelaki. Dan Weri atau selendang bagi perempuan.

 

Suatu kebanggaan bagi mereka adalah segala yang dibutuhkan oleh Kerajaan Bima tidak terlepas dari peran masyarakat Ntobo. Sampai saat ini produksi sarung tenun masih tetap awet terjaga, kecuali Sambolo dan Weri dikarenakan tradisi itu mulai berkurang penggunanya. Sementara harga sarung tenun cukup bervariasi dari 300 ribu, 500 ribu sampai 1 juta. Kebutuhan akan sarung ini bukan hanya masyarakat Bima melainkan hampir seluruh masyarakat Indonesia.

 

Pada kesempatan itu beberapa sarung tenun yang diperlihatkan kepada saya sangatlah menawan. Saya ingin memperoleh semuanya dengan cuma-cuma alias gratis namun sayangnya saya tak memiliki ilmu hipnotis agar berakhir baik. Sekalipun begitu setidaknya saya tetap bersyukur sebab dihadiahkan sebuah sarung Nggoli. Kata mereka sarung tersebut sangat memahami kondisi pemakainya. Saat cuaca dingin dengan sendirinya ia akan menghangatkan tubuh si pemakai. Begitupun sebaliknya jika panas maka ia akan menyejukan diri agar pemakai tetap terasa nyaman. Sarung yang satu ini cukup rekomendid untuk anda beli sebagai hadiah terbaik.

 

bima
Motif kain Nggoli

Bukan hanya satu jenis sarung yang diproduksi oleh warga sekitar. Banyak macam namun sedikit aneh saat mendengar nama-nama sarung tersebut. Dari Tembe Pa’a, Tembe Galendo, Tembe Salungka, Tembe Nggoli, Tembe Renda dan Tembe Asi. Motifnya juga cukup unik mengesankan. Ada daun kelor, gigi anjing, burung, padi, bunga mawar, hati, dan yang paling unik adalah tai kambing. Dilain waktu mungkin dapat berkunjung lagi untuk lebih fokus mengkaji mengapa tai kambing dimasukan sebagai motif utama dalam pembuatan sarung tersebut.

 

Dengan keunikan itulah masyarakat Ntobo terus mempertahankan aktivitas menenun mereka sebagai sumber kehidupan selain bertani. Biasanya sebulan bisa menghasilkan 3 hingga 4 buah sarung. Tentu dengan harga yang terjangkau dan memuaskan. Namun, sayangnya saya tak menemukan seorang pun anak gadis yang sedang menenun disana. Mungkin Hayati sedang menikmati hari cutinya, sehingga ia berniat menemui Zainuddin yang sedang galau gulana.

 

Nah, jika kamu memiliki kesempatan ke Bima, maka berkunjunglah ke desa Ntobo dan bebas memilih sesuai selera kamu atau menghubungi kami melalui via Email, Facebook, Instagram dan WhatApp yang tertera di website kami.

 

Share:
Post Artikel

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

ARTIKEL TERBARU
X
close
Banner iklan disini
close
close