Dimensi Indonesia
Bali malam itu
| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |
CATATAN PERJALANAN

GWK Cultural Park, Adikarya dari Pulau Dewata

Dari kejauhan puncak Patung Garuda Wisnu Kencana mulai nampak, padahal masih sekitar 30 menit lagi untuk tiba di sana. Patung Garuda itu berdiri kokoh seolah menerbangkan Dewa Wisnu ke langit angkasa, memperlihatkan citra Pulau Dewata yang benar-benar dihuni oleh dewa-dewa.

Penulis: Amelia Adriani


Tepat 2017 silang sebelum Patung Garuda Wisnu benar-benar rampung total, saya mengunjungi Garuda Wisnu Kencana Cultural Park (GWK). Taman budaya yang terletak di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, berjarak sekitar 40 kilometer sebelah selatan Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Setelah 28 tahun proses pengerjaan patung Garuda Wisnu Kencana akhirnya telah dirampungkan dan diresmikan 22 September 2018 lalu oleh Presiden Joko Widodo.


“Senyum” kata pertama yang didengar setelah memasuki pintu gerbang GWK. Diucapkan oleh seorang fotografer yang bertugas memotret setiap pengunjung. Setelah itu diberi kupon bernomor yang nantinya akan ditukar dengan hasil jepretan fotografer di gallery saat akan meninggalkan GWK. Tentu saja foto yang kami dapatkan tidak dibayar, berbeda dengan lokasi wisata lainnya yang sering saya kunjungi.

 

Dimensi Indonesia
GWK Cultural Park

Bukan hanya itu, bagian unik lainnya dan tentu saja sarat budaya akan dijumpai pada saat akan membeli tiket masuk. Grup gamelan akan memainkan musik khas Bali dan menghibur pengunjung yang sedang antri membeli tiket. Gerakan tangan pemainnya sungguh manis, pelan, dan membuat saya tak berhenti mengikuti arah tangannya. Harga tiket waktu itu Rp.70.000,- per-orang untuk warga lokal.

 

Untuk turis asing harga tiketnya berbeda. Saya tidak tahu pasti harganya, saat itu yang antri di loket tiket salah seorang teman, yang kami paksa untuk menjadi tour guide kami selama di Bali. Saya duduk di bawah pohon dan terhipnotis oleh suara gamelannya, membuatku berhasil tertidur kurang lebih 10 menit.


Semua petugas di GWK tentu saja memakai pakaian khas Bali. Laki-laki memakai ikat kepala, yang orang Bali menyebutnya “udeng”. Untuk perempuan memakai kebaya dan sarung serta riasan ala Bali.

 

Dimensi Indonesia
Pemain gamelan

Garuda Wisnu Kencana yang dulunya merupakan bekas tambang kini disulap menjadi taman budaya dan berhasil mempersentasikan dirinya sebagai mahkota Bali. Diprakarsai oleh yayasan Garuda Wisnu Kencana pada tahun 1992. Patung Garuda Wisnu Kencana yang tingginya melebihi patung Liberty di New York memiliki tinggi 120 meter dan bentangan sayap sepanjang 60 meter.


Bukan hanya patung yang menjadi daya tarik di GWK ini, berbagai fasilitas yang siap memanjakan pengunjungnya seperti Wisnu Plaza, Garuda Plaza, Street Theater, Lotus Pond, Amphitheatre, Tirta Agung, Indraloka Garden, Exhibiton Hall, Restoran, Bioskop, Hotel, dan lainnya.


Karena merupakan taman budaya yang berlatar di Pulau Dewata, maka hal yang akan ditemui dan banyak dipelajari adalah adat di Pulau Bali. Dimulai dari cerita tentang Garuda dan Wisnu, bangunan-bangunan yang berestetika, pagelaran dan atraksi budaya, kesenian, hingga ukiran-ukiran dari hasil karya I Nyoman Nuarta, seorang pematung terbaik di Indonesia dan merupakan pematung utama dalam proyek GWK Cultural Park.

 

Dimensi Indonesia
Kesenian Bali

Mengenai tentang cerita Garuda dan Wisnu itu akan dijelaskan didalam bioskop disajikan dalam bentuk film animasi, mengenai ini saya sedikit lupa akan kisah itu. Tapi masih jelas dalam ingatan bahwa kisah yang diceritakan dalam film berbeda dengan kisah yang sebenarnya, ini dijelaskan oleh seorang kawan yang merangkap sebagai supir dan tour guide kami. Dia orang Bali dan Hindu sejak lahir, beberapa kali saya sering menggodanya untuk memeluk agama Islam. Hingga dia bosan mendengar ocehanku tentang agama, sampai akhirnya saya dibawanya bertemu seorang yang dihormati di pura yang terletak di 0 km Kota Denpasar (kisah ini diskip dulu).


Saat mengunjungi tempat ini diharapkan jangan buru-buru, di setiap sudutnya akan ada keindahan yang kau temui. Setelah itu lalu melangkahlah menuju objek utamanya, yaitu patung garuda dan wisnu. Jika tak sanggup berkelana mengelilingi GWK yang luasnya hampir 240 hektar ini kalian bisa menikmati berbagai atraksi kesenian di Amphitheatre, Street Theatre, Plaza Wisnu, dan Lotus Pond.

 

musium
Pementasan tari

Kami memasuki Amphitheatre pukul 10.00 WITA, disambut oleh Tari Keris Barong dan satu jenis tari Bali yang namanya kulupa. Di Amphitheatre akan ditemui jadwal pementasan seni. Mulai pagi akan ada Tari Barong di Amphitheatre, dilanjut pukul 12.10-12.50 akan ada penampilan tari Bali lagi. Hingga malam hari, pementasan tarian di Amphitheathre terus berlanjut, dan yang kami paling tunggu-tunggu adalah Pementasan Tari Kecak. Konon katanya sebelum memulai tarian ini akan ada ritual sebelumnya, gunanya kalau tidak salah ingat, agar penari tidak kemasukan roh (entah ini benar atau tidak, itu menurut kepercayaan mereka).


Sore harinya di Street Theatre akan ada Parade Budaya Bali, dan dilanjutkan dua jenis tarian lengkap dengan pemusiknya yang mengatur gamelannya di sekitar air mancur. Di Street Theatre penari sangat dekat dengan penontonnya, sampai penonton diajak ikut menari satu persatu. Di tarian kedua saya memberanikan diri ikut serta, seorang penari menarik saya naik ke pentas dan mengalungiku selendang berwarna merah muda. Dengan otot-otot yang kaku saya mencoba mengikuti gerakannya, hingga leher saya lelah mengikuti arahnya.


Setelah itu, dua orang teman kami pamit pulang dikarenakan harus terbang balik ke Makassar pukul 18.00 WITA. Sedikit kisah, kami mengunjungi tempat ini 9 orang. Mereka berasal dari pulau yang berbeda, dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan tentu saja supir yang merangkap sebagai tourgiduide kami berasal dari Pulau Dewata. Kami dipertemukan di diklat jurnalistik yang diadakan oleh Pers Akademika Universitas Udayana dan punya tujuan lain, yaitu mengeksplor Bali lebih lama lagi.

 

musium
Manari bersama

Meninggalkan GWK di malam hari setelah menonton pertunjukan Tari Kecak, di jalan keluar Amphiteathre, para penari tari kecak akan berbaris mengucapkan selamat tinggal sambil membawa obor yang mereka pakai menari tadi.


Tempat yang dulunya hanyalah tambang batu kapur, sekarang jauh berbeda bahkan kalian tidak akan mengira kalau tempat ini bekas tambang. Batuan kapur yang dipahat-pahat menjadi pilar-pilar besar dan setiap bagian dipisahkan memberikan kesan yang sangat artistik. Wajar saja kalau Bali menjelma sebagai pulau surga yang mahakaryanya sangat luar biasa. Menggabungkan alam, adat, budaya, kesenian, dan teknologi menjadikannya taman budaya yang apik.

 

musium

AMELIA ADRIANI

 

Kalau kamu juga ingin mengenalkan Indonesia pada dunia, silahkan kirim cerita kamu ke email kami di dimensi.indonesia1@gmail.com. Kami dengan senang hati akan membagikan cerita kamu.

 

Share:
Post Artikel

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

ARTIKEL TERBARU
X
close
Banner iklan disini
close
close