www.freepik.com
Designed by jcomp / Freepik
| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |
IDE

Dee: Tulis Kisahmu Sendiri

“Setiap manusia punya cerita, setiap benda punya kisah. Namun, apakah kita mau mendengar kisah dan cerita itu?” Pernyataan itu ditanyakan Dewi “Dee” Lestari di hadapan ratusan peserta Makassar Writers International Festival. Penulis buku Supernova, Perahu Kertas, Filosofi Kopi ini datang ke Makassar berbagi inspirasi seputar dunia literasi.

Penulis: Kasman


Saya berkesempatan menjadi salah satu peserta dari beberapa peserta yang beruntung menghadiri diskusi yang menghadirkan dirinya sebagai narasumber. Diskusi yang berlangsung tak lebih dari 2 jam itu sedikit membuka pikiran saya, bila menulis tak sesulit merangkai hubungan yang tak berujung. Menulis ibarat melukis.


Kata Dee, menjadi seorang penulis tidak sulit, hanya dibutuhkan kemauan untuk mulai menulis dan menciptakan banyak tulisan. Seorang penulis juga harus mampu meracik sebuah lintasan ide untuk diubah menjadi sebuah buku.


 “Awal tahun 98, di mana banyak terjadi konflik, saat itu saya malah penasaran dengan pertanyaan sederhana, seperti: Tuhan itu seperti apa? Cinta itu apa dan bagaimana? Hidup itu sebetulnya apa dan bagaimana? Lalu kenapa saya ada di sini?” cerita Dee.


Nah, semua pertayaan itu membuat Dee banyak membaca buku. Hobi membaca bukunya pun boleh dibilang ekstrem. “Ketertarikan baca saya sangat tinggi, yang tadinya saya numpang baca buku kakak-kakak saya, tiba-tiba saya kayak orang kesetanan, semua tabungan saya habiskan beli buku. Dalam satu hari, saya bisa baca buku setebal ini (3 cm) 5 biji,” akunya.


Keinginan menulis tumbuh dari kesukaannya membaca yang kemudian melahirkan banyak ide. “Ketika saya baca buku, saya kepengan berbagi bila buku ini bermanfaat, tapi bagaimana caranya?”


Tak hanya itu, ketertarikan membaca itu lalu menumbuhkan rasa ingin tahu yang berlebih. “Sejak itu saya hobi riset. Kalau saya suka sesuatu, misalnya suka fotografi, saya kursus. Jadi apa-apa, kursus. Kenapa? Karena saya ingin tahu sedalam-dalamnya, sedetail-detailnya.” Nah, semua buku Dee yang diminati ribuan pembaca lahir dari riset, yang lahir dari rasa ingin tahu.


Nah, salah satu yang harus dimiliki seorang penulis, kata Dee, yaitu unsur drama dalam jiwa. Seorang penulis harus punya kepekaan terhadap alam drama. Misalnya, ketika mendengar curhatan orang, atau ketika dosen menerangkan pelajaran.
“Seorang penulis memiliki radar yang nyala terus, radar drama.

 

Apa yang terjadi ketika ada suatu ide di benak saya? Ide itu akan saya olah dalam pikiran, apakah ide itu dapat berkembang, ada potensi melebar dan konflik ini-konflik itu. Nah, bila semua terpenuhi,  hampir pasti itu akan menjadi suatu cerita.”

 

Mulai Sekarang
“Banyak yang email ke saya, Mba’ (Dee), saya punya kehidupan yag menarik sekali, tolong dong dibukukan,” ujar Dee.

 

Nah, ide menulis bisa datang dari mana saja. Karena itu, kata Dee, seseorang bisa menulis bukunya sendiri dari kisah hidup yang dialaminya sendiri. “Yang tahu tentang dirimu, itu kamu sendiri.” Karena itu, prioritas penulis adalah menulis dan menghasilkan karya.


Namun, kendala utama saat akan menjadi penulis adalah konsisten melahirkan karya. “Ada buku yang 50 persen habis saya garis-garis. Begitu cara sederhana menemukan bahan tulisan.”

 

Belajar dari Kritikan
Salah satu yang membuat penulis matang dari waktu ke waktu adalah kritikan atas apa yang ia hasilkan. Dee dalam kesempatannya memberikan saran, hasilkan karya dulu, jangan takut karya akan disukai pembaca atau tidak. “Setiap buku pasti punya pembaca, yakini itu.”


“Waktu saya menulis Supernova pertama, saya dikritik habis-habisan. Apa rasanya? Ibaratkan seperti anak pertama, kita begitu dilepas dari rumah, dikatain, jelek-jelek-jelek. Rasanya ya, sakit hati.”


“Nah disitu saya menyimpulkan, apapun yang kita lakukan pasti menuai pro dan kontra, karena kita tidak bisa memuaskan semua orang. Berusaha memuaskan semua orang adalah cara paling mudah menemukan ketidakbahagiaan.”

 

Nah, salah satu cara mudah melatih kepekaan merangkai kata, ujar Dee, dengan banyak menonton serial drama. Hal ini mampu menumbuhkan rasa penasaran dan membangun hubungan ide dalam waktu lama. “Saya merasa sebagai penulis sangat penting untuk punya posibilitas ruang pencipta. Dan kecenderungan saya sejak kecil, suka cerita serial yang panjang. Dan itu sangat  berpengaruh dengan buku saya selama ini.”

 

Share:
Post Artikel

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

Membingkai Indonesia

ARTIKEL TERBARU
X
close
Banner iklan disini
close
close