Tana Toraja
Upacara pemakaman, Rambu Solo
TANA TORAJA, SULAWESI SELATAN

Tana Toraja nan Mistrius

Konon, Tana Toraja adalah tempat tinggal para bangsawan yang diyakini keturunan dewa. Mereka turun dari surga untuk tinggal di bumi dengan alamnya yang indah. Lembah subur dengan terasering menghijau dikelilingi gunung tinggi serta tebing batu granit. Tidak salah lagi, inilah tempat indah dengan daya magis yang unik.

Penulis: Kasman
| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

 

Tahun 2015, untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di Toraja. Tepatnya bulan Desember. Bulan dimana Toraja menggelar berbagai festival yang dirangkumkan dalam even nasional bernama lovely Desember. Dan memang sangat disarankan paling baik untuk memulai perjalanan ke Tana Toraja di bulan itu.

 

Tak mengherankan jika Tana Toraja terkenal dengan kemisteriusannya. Berbagai ritual dan perayaan digelar untuk mempertahankan kekuatan tanahnya.

 

Yang paling terkenal adalah Rambu Solo, serangkaian upacara pemakaman dengan biaya supermahal karena berlangsung berhari-hari dan melibatkan seluruh penduduk desa.

 

Tana Toraja
Upacara Rambu Solo

Saya beruntung sekali bisa melihat Rambu Solo saat pertama kali berkunjung. Dan saya sekali lagi dibuat kagum dengan upacara ini. 8 hingga ratusan ekor kerbau disediakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Semakin tinggi posisi keluarga itu di masyarakat, semakin banyak pula jumlah kerbau yang dibutuhkan. Kerbau-kerbau itu juga bisa diganti dengan babi.

 

Untuk kalangan menengah, kerbau yang dibutuhkan sekitar 8 ekor atau bisa diganti dengan 50 ekor babi. Harga seekor tidaklah murah. Itulah kenapa ritual ini membutuhkan banyak biaya. Saking besarnya dana yang dibutuhkan, tak jarang bila keluarga membutuhkan waktu berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, untuk menggelar Rambu Solo.

 

Selama upacara itu belum digelar, jenazah dianggap belum meninggal sempurna. Jenazah akan disimpan di rumah adat tongkonan dan diperlakukan seperti orang yang masih hidup.

 

Tana Toraja
Mapasilaga Tedong (adu kerbau), juga bagian dari Rambu Solo

Ia akan diberi makanan kesukaan dan lain-lainnya. Benda-benda itu akan diletakkan di sisi peti jenazah. Tentu saja jenazah sudah dibalsam/diawetkan. Baru setelah upacara Rambu Solo digelar, jenazah akan dipindahkan ke dalam gua. Salah satu gua yang paling banyak digunakan dan popular di kalangan wisatawan adalah Gua Londa.

 

Gua ini terletak di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi. Kurang-lebih 7 kilometer dari selatan Kota Rantepao. Namun, Untuk mencapai Gua Londa, saya mesti menyusuri sejumlah anak tangga. Dari kejauhan, Gua Londa tampak seperti tebing curam dengan pepohonan hijau.

 

Jangan heran bila melihat beberapa peti diselipkan di celah-celah tebing. Setiba di dekat gua, deretan patung kayu atau tau-tau di tebing batu. Patung-patung hasil pahatan ini memang dibuat semirip mungkin dengan jenazah yang dikubur di sana. Beberapa tau-tau dibuat sangat detail, seperti garis kerut wajah atau kulit leher yang kendur akibat penuaan. Kayu yang dipilih juga memiliki warna yang paling dekat dengan warna kulit manusia. Katanya, harga tau-tau cukup mahal.

 

Di sekitar barisan tau-tau, terdapat peti-peti mati (erong) yang disangga oleh kayu, sehingga peti-peti tersebut aman berada di atas tebing. Peletakan peti mati ini katanya juga tidak sembarangan. Semakin tinggi letak petinya, semakin tinggi pula derajat jenazah yang dikubur di sana. Masyarakat Toraja menyakini, semakin tinggi letak petinya, semakin dekat perjalanan roh menuju tempat setelah kematian (nirwana).

 

Makam gantung inilah yang sering disebut sebagai daya tarik lain di Tana Toraja. Dunia telah mengakuinya dengan memasukkan Tana Toraja dalam daftar sementara warisan budaya dunia oleh UNESCO.

 

Di luar gua, saya juga bisa melihat tulang- tulang berserakan. Ada yang berasal dari peti mati yang jatuh dari tebing tempat semula digantungkan. Umumnya, peti-peti itu sudah hancur karena dimakan usia. Tulang-tulang itu tidak boleh sembarangan dipindahkan atau ditempatkan pada peti yang baru, tanpa menggelar upacara kembali.

 

Tana toraja
Gua Londa

Aura mistis makin terasa begitu kaki melangkah masuk ke gua dengan kedalaman hingga 1.000 meter. Tengkorak dan peti makin banyak jumlahnya.

 

Pengaturan itu disesuaikan dengan garis keturunan atau keluarga. Selain peti mati, terlihat pakaian atau rokok yang sengaja ditaruh di sana oleh sanak kerabat jenazah. Kumpulan tengkorak dan tulang-belulang yang ada di gua ini sudah berumur puluhan, bahkan ratusan, tahun. Sangat tua.

 

Ada peraturan yang harus ditaati oleh semuanya. Kita tidak diperbolehkan memindahkan-apalagi mengambil-tulang, tengkorak, atau benda lainnya di area makam.

 

Sebab, inilah salah satu etika yang mesti dituruti. Ingat! Sangat dilarang. Selain itu, berhati-hatilah agar tidak menginjak tulang tersebut. Namun, kemisteriusan Tana Toraja tidak berenti disini. Ia telah membuat saya jatuh hati padanya.

 

Ikuti cerita saya berikutnya tentang tempat tinggal para bangsawan

 

Share:
Iklan Banner
Artikel Terkait

Kenapa Toraja Begitu Berbeda?

Budaya

Fotret Toraja Tahun 1977

Foto

Mengenal Ragam Ukiran Toraja dan Makna Filosofinya (Bagian 1)

Seni dan Budaya

Jangan Mati Sebelum ke Toraja

Foto