musium
Masjid Terapung Makassar, Icon kota
MAKASSAR, SULAWESI SELATAN

Yuk, Cari Daeng di Kota Makassar

Kapal layar Spanyol dan Portugis serta para pedagang Inggris dan Belanda mengarungi lautan Sulawesi Selatan untuk menguasai rempah-rempah. Mereka dikawal prajurit perang untuk bertahan dari serangan bajak laut Bugis dan Makassar. Keduanya terkenal sebagai pelaut ulung dan bermata pencaharian di laut.

Penulis: Kasman
| www.dimensiindonesia.com | cerita Indonesia tentang keindahan alamnya, keunikan dan keberagaman budayanya |

 

MAKASSAR. Ibu kota provinsi Sulawesi Selatan ini dinilai sebagian orang kota yang kasar. Salah seorang teman saya yang tinggal di Pulau Kalimantan juga bilang begitu.


Bagi saya, anggapan itu tak menggambarkan semuanya. Makassar memang kota yang diisi beragam manusia. Ia juga sebagai pusat ekonomi, pendidikan sekaligus politik di Sulawesi Selatan. Ia salah satu kota yang begitu popular di Indonesia.

 

Walau padat, Makassar tak perna kehilangan pesona. Bayangkan saja, jutaan orang datang ke kota ini setiap tahunnya. Ada yang datang belajar adapula yang megadu nasib. Ada yang hanya mampir lalu berlalu. Pembangunan hotel yang tumbuh bak jamur di musim hujan juga menandakan kalau kota ini memang punya daya tarik.

 

Perekonomiannya berputar cepat. Siang-malam, pagi-sore manusianya sibuk berpacu, Kota ini seeakan tak ada matinya. Saya tinggal di Makassar 8 tahun lamanya. Kalau kamu bertanya apa yang menarik di Makassar?

 

Sayak akan jawab bagini “Ibaratanya. Saat di kota merindukan ketenangan desa. Namun, ketika telah berada desa, kembali lagi merindukan bisingnya kota. Lalu satu persatu mereka bertanya, apa yang bisa didapatkan dari desa? Hanya secuil wilaya tertinggal, katanya. Hmm…kasihan sekali “mereka” yang hanya mekar di tempat bising." Namun, saat hidup di kota, kamu akan berada dalam suatu lingkaran, berputar disana hingga kamu tak mampu mengendalikannya lagi. Pergi saat pikiran masih sepi, mungkin akan pulang saat pikiran kembali kosong dan lampu-lampu mulai dinyalahkan.

 

Waktu berputar begitu cepat. Manusia berkerumun di pasar, padatnya jalan kota, kampus yang penuh mahasiswa, semuanya menjalaini kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun, Makassar tetap saja punya pesona. Ia adalah pintu gerbang Provinsi Sulawesi Selatan. Tak ada jalan lain bagi orang dari seberang pulau yang ingin melihat meganya upacara kematian Tana Toraja selain melewati kota ini.

 

Festival bertaraf nasional hingga dunia sering digelar pemerintah. Akhir pekan selalu ramai. Café, mall, arena hiburan lainnya pun tak penah kekurangan pengunjung. Namun, selalu siaplah menghadapi kemacetan.

 

 

Ikuti cerita saya di bawah

Share:

Iklan Banner
Artikel Terkait

Melihat Kota Makassar 300 Tahun Lalu

Sejarah

Masjid Amirul Mukminin Nan Romantis

Wisata

Masjid Arab Tertua Indonesia

Sejarah

Berpetualang di Hutan Mangrove

Wisata

Masjid Cantik dengan Kubah Kecil Berjumlah Banyak

Wisata

Dimensi Indonesia

Membingkai Indonesia